Sabda Hidup
Jumat, 22 November 2024, Peringatan St. Sesilia
Bacaan: Why 10:8-11; Mzm 119:14.24.72.103.111.131; Luk 19:45-48
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ, kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.” [Lukas 19: 45 – 46].
Apakah Anda seorang pemarah? Maka Anda mestinya menikmati perikope Injil tentang pemurnian Bait Suci, hari ini. Tetapi sebelum Anda menjadikan Yesus sebagai model dan alasan untuk ledakan amarah Anda, renungkanlah sedikit tentang situasinya. Bukankah Yesus adalah penjelmaan kasih Allah? Bukankah Dia mengatakan bahwa Dia lemah lembut dan rendah hati? Tentunya Dia bukanlah seorang pemarah.
Kemarin kita jumpai Yesus yang meneteskan air mata bukan karena kehancuran sebuah bangunan, tetapi karena penderitaan yang ditimpakan orang kepada diri mereka sendiri ketika mereka menolak untuk mendengarkan pesan perdamaian-Nya. Demikian pula, pemurnian Bait Suci bukan hanya sekedar pembersihan bangunan suci, Rumah Allah dari bisnis dan korupsi. Bait Suci melambangkan hubungan Allah dengan umat-Nya, dan melambangkan Tubuh Yesus sendiri. Bait Suci mewakili semua pengikut Kristus yang disebut oleh Santo Paulus sebagai “bait Roh Kudus.”
Ketika Bait Suci dicemari oleh para pedagang yang mencari uang, hubungan Israel dengan Allah telah dicemari oleh keserakahan dan pemberontakan. Para nabi dan orang-orang yang diutus oleh Allah telah dianiaya dan bahkan dibunuh. Hal ini sangat menyakitkan hati Yesus sehingga dalam sebuah tindakan kenabian, Dia menunjukkan kepada orang-orang bagaimana mereka telah melukai kasih dan kebaikan Allah. Dan tidak lama kemudian mereka akan menangkap, menyiksa, dan bahkan membunuh Dia, Bait Allah yang sesungguhnya.
Tetapi, kini Yesus juga melihat kecemaran dari banyak bait Roh Kudus, yaitu diri kita sendiri. Ada orang-orang yang mengabaikan Tuhan dan melakukan hubungan seks pranikah tetapi kemudian mengeluh ketika seorang bayi ada dalam kandungan. Ada banyak pernikahan di mana pasangannya tidak setia. Ada orang-orang yang terlibat dalam korupsi dan akhirnya menderita ketika mereka ketahuan. Begitu banyak kejahatan yang telah kita lakukan!
Yesus ingin kita diselamatkan. Tetapi kita sering menjalani hidup seolah-olah tidak ada hari esok yang kekal. Lihatlah Yesus yang marah hari ini, pada rasa frustrasi seorang kekasih yang cintanya ditolak, rasa frustrasi orang tua yang mengasihi anak-anak yang tidak tahu berterima kasih. Apakah Anda ingin membuat Dia merasa sakit seperti itu?
Dosa atau kebiasaan buruk apa yang paling mengotori bait Roh Kudus yaitu tubuh Anda? Apa yang akan Anda lakukan untuk menghindari dosa ini?
Tuhan, setiap kali aku tergoda untuk berbuat dosa, ingatkan aku akan kasih-Mu dan betapa dosa itu sangat menyakitkan-Mu. Amin.
***
Santa Sesilia, Perawan dan Martir

Cerita-cerita mengenai Sesilia kurang pasti dan jelas. Dalam buku ‘Acta’ (Cerita Kuno) yang berbau legenda, diceritakan bahwa Sesilia adalah seorang gadis Roma yang telah menjadi Kristen. Ia, puteri bangsawan dari suku bangsa Coesilia, suku terkenal yang menghasilkan banyak pemimpin serta delapanbelas orang konsul untuk Republik Roma pada masa itu. Konon semenjak kecil ia telah berikrar kepada Allah untuk hidup suci-murni dan tidak menikah. Namun ketika sudah dewasa, orang-tuanya mempertunangkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda yang berhati mulia dan jujur tetapi masih kafir.
Sebagai anak yang sudah menjelang dewasa, ia cukup bijaksana menghadapi ulah orang-tuanya. Ia tidak menoIak kehendak orang tuanya, kendatipun dalam hatinya ia terus berupaya mencari jalan bagaimana cara ia tetap mempertahankan ikrar kemurniannya. Ia yakin bahwa Tuhan yang Mahakuasa akan membantunya dalam niatnya yang baik itu. Dengan keyakinan itu, imannya tidak goyah sambil tetap menghormati kedua orang-tuanya. Ketika hari perkawinannya tiba, maka Sesilia mengikuti upacara sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani; sementara itu para tamu sudah datang dan bunyi musik pun sudah ramai terdengar. Seusai pesta perkawinan itu, ia bersama Valerianus memasuki kamar mereka sebagai suami-isteri.
Dengan berani Sesilia berkata kepada suaminya Valerianus: “Valerianus! Aku mau menceritakan kepadamu suatu rahasia pribadi. Aku mohon engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku mempunyai seorang malaekat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku sebagaimana biasanya dilakukan oleh suami-isteri yang sudah menikah secara resmi, maka malaekat itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi jika engkau menghormati keperawananku, maka malaekat pelindungku itu akan mencintai emgkau sebagaimana dia mencintai aku.”
Kata Valerianus: “Tunjukkanlah malaekat itu kepadaku. Jika ia berasal dari Tuhan maka aku akan mengikuti kemauanmu.” Jawab Sesilia: “Jika engkau percaya dan mau dibaptis menjadi Kristen, engkau akan melihat malaekat itu.” Valerianus menyetujui usul Sesilia, isterinya. Ia disuruh menghadap Paus Urbanus, yang tinggal di Jalan Apia. Di sana ia mengalami suatu penampakan ajaib dan mendapat pengetahuan iman lalu ia bertobat dan dipermandikan oleh Paus Urbanus. Ketika ia kembali ke rumah, didapatinya Sesilia sedang berdoa didampingi seorang malaekat yang membawa 2 mahkota bunga: untuk Sesilia dan Valerianus. Valerianus sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Dengan itu apa yang dikehendakinya terpenuhi: ia melihat sendiri malaekat pelindung Sesilia, isterinya.
Pada waktu itu Kaisar Roma Diokletianus sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristen. Dengan rajin Sesilia dan Valerianus setiap hari menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang dibunuh. Valerianus kemudian tertangkap dan dihukum mati bersama adiknya dan seorang tentara Romawi yang bertobat. Tak lama kemudian Sesilia juga ditangkap dan diadili. Ia menolak dengan tegas bujukan para penguasa. Maka ia disiksa dengan bermacam-macam cara, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Akhirnya dia dipenggal lehernya dan wafat sebagai martir Kristus pada tahun 230.
Keberaniannya menghadapi kemartirannya membuat Sesilia tampil sebagai contoh gadis Kristen sejati, yang menjadikan hidupnya suatu madah pujian bagi Tuhan; ia dengan tegas dan gembira memilih keperawanan dan lebih senang mati daripada menyangkal cinta setianya kepada Kristus. Kemartirannya membuat banyak orang Roma bertobat dan mengimani Kristus. Dalam abad kelima di Roma didirikan sebuah gereja basilik untuk menghormatinya, dan devosi-devosi rakyat segera mengangkatnya sebagai pelindung paduan suara dan musik gerejawi. ***
