Sabda Hidup
Selasa, 25 Februari 2025, Selasa Pekan Biasa VII
Bacaan: Sir 2:1-11; Mzm. 37:3-4,18-19,27-28,39-40; Mrk. 9:30-37.
Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit…. Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”[Mrk 9: 31. 35]
Sungguh suatu gambaran yang indah tentang kasih – Allah sang pencinta menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan orang yang dikasihi-Nya, meskipun hal itu berarti penolakan, penyiksaan, dan pembunuhan. Sang pencinta tidak memiliki cara lain untuk mengekspresikan seluruh cintanya selain menyerahkan dirinya ke dalam pelukan orang yang dicintai. Inilah yang telah dilakukan Tuhan: Dia menyerahkan diri-Nya ke dalam tangan manusia, dengan mengetahui sepenuhnya bahwa mereka akan melakukan apa yang mereka inginkan.
Para murid tidak dapat memahami kasih Tuhan ini. Bagaimana memahami kekalahan dan bahkan kematian Mesias? Mereka tidak dapat menerima skandal penderitaan Mesias. Namun, mereka tetap mengikuti-Nya ke Yerusalem, tetapi tentu saja, dengan mimpi-mimpi yang berbeda dengan cita-cita Yesus. Berabad-abad kemudian, meskipun dengan pemahaman yang lebih besar tentang Misi dan perkataan Yesus, sayangnya, kita terus mempertahankan aspirasi yang sama dengan para murid Yesus dan bertarung satu sama lain untuk mendapatkan pengakuan, penerimaan dan kekuasaan, posisi dan gengsi.
Panggilan Kristiani memanggil kita untuk melayani sesama. Namun, saat ini kita sering tergoda oleh “pelayanan” yang pada kenyataannya adalah “melayani diri sendiri”. Yesus meminta kita untuk saling memperhatikan satu sama lain berdasarkan kasih. Ini adalah sebuah undangan pribadi: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” Kriteria ini adalah untuk evaluasi pribadi dan bukan untuk menghakimi orang lain. Yesus tidak mengatakan: “Jika sesamamu ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir!” Kita harus berhati-hati untuk menghindari pandangan yang menghakimi.
Dalam kunjungan apostolik ke Kuba pada bulan September 2015, Paus Fransiskus berkata: “Kepedulian terhadap orang lain berdasarkan kasih berarti menempatkan pertanyaan tentang saudara dan saudari kita sebagai pusat perhatian. Pelayanan selalu melihat wajah mereka, menyentuh tubuh mereka, merasakan kedekatan mereka dan bahkan, dalam beberapa kasus, “menderita” kedekatan itu dan mencoba membantu mereka. Pelayanan tidak pernah bersifat ideologis, karena kita tidak melayani ide; kita melayani orang.” Hal yang senada dikatakan oleh Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Indonesia. Dalam pidatonya di Katedral Jakarta, 4 September 2024 ia berkata: “Kita tahu bahwa bela rasa tidak dibatasi saja pada memberi sedekah kepada saudara dan saudari yang membutuhkan, sambil memandang rendah mereka dari “menara” rasa aman dan keberhasilan kita. Sebaliknya, bela rasa berarti mendekatkan kita satu sama lain, menghapuskan segala sesuatu yang menghalangi kita untuk turun menyentuh mereka yang ada di bawah, mengangkat mereka dan memberikan mereka harapan” (bdk. Fratelli Tutti, 70).
Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu bicarakan di jalan?” (v. 33). Gereja bukanlah sebuah batu loncatan untuk mencapai posisi prestise, menonjolkan diri, atau menguasai orang lain. Gereja adalah tempat di mana setiap orang mematuhi karunia mereka dari Tuhan, merayakan kebesaran mereka dalam pelayanan yang rendah hati kepada orang lain. Di mata Tuhan, yang terbesar adalah orang yang paling menyerupai Kristus, yang adalah pelayan bagi semua orang (Luk. 22:27).
Apakah saya menyimpan kebencian, kecemburuan, dan konflik di dalam hati saya? Apakah akibat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan pribadi, keluarga, dan komunitas saya?
Marilah kita berdoa agar, seperti Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, kita dapat menemukan sukacita dalam memberi dan menjadi murid-murid Kristus yang sejati. Semoga kita dapat menyambut mereka yang kecil dalam hidup kita, dengan menyadari bahwa dengan melayani mereka, kita menyambut Yesus sendiri.
Tuhan, ajarlah kami untuk melayani dengan kasih sehingga kami dapat bertumbuh dalam kekudusan dan membawa pengharapan bagi dunia. Amin!
