Remah Harian

WARTAKAN SUKACITA INJIL

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 11 Juli 2024, Kamis Pekan Biasa XIV, Peringatan St. Benediktus
Bacaan: Hos 11:1-4.8c-9Mzm 80:2ac.3b.15-16Mat 10:7-15

MAT 10: 8

Hari ini kita peringati St. Benediktus (480-547), yang lahir di Nursia, Umbria, sekitar tahun 480 dan dikirim ke Roma untuk dididik, tetapi segera meninggalkan dunia ramai untuk menjalani kehidupan yang menyendiri di Subiaco. Setelah tinggal di sebuah gua di pegunungan selama dua tahun sebagai pertapa, ia semakin dikenal sehingga banyak murid yang datang untuk bergabung dengannya dan keluarga-keluarga penting di Roma mempercayakan pendidikan anak-anak mereka kepadanya. Dia mengorganisir sebuah bentuk kehidupan biara di dua belas biara kecil. Di bawah bimbingannya sebagai Abbas, para biarawan berkaul untuk mencari Tuhan dan mengabdikan diri mereka untuk bekerja dan berdoa. Beberapa tahun kemudian Santo Benediktus meninggalkan distrik Subiaco dan mendirikan biara besar Monte Cassino di dataran tinggi Campania. Di sana ia menulis Peraturannya yang secara mengagumkan menggabungkan kejeniusan Romawi dan kebijaksanaan biara di Timur Kristen. Santo Benediktus wafat pada tahun 547. Sebelum pembaharuan Kalender Romawi Umum, pesta Santo Benediktus dirayakan pada tanggal 21 Maret.

Kehidupan St. Benediktus adalah sebuah kesaksian akan Injil, yang ditandai dengan cinta kasih, kerendahan hati dan kesetiaan. Biara-biara Benediktin yang ia dirikan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembelajaran dan budaya. Pengaruhnya sangat penting dalam perkembangan peradaban dan budaya di Eropa. Santo Benediktus, yang dihormati sebagai santo pelindung Eropa dan monastisisme Barat, terus menginspirasi kita dengan doa dan karya untuk perdamaian.

Tuhan menghendaki agar para muridnya bersyukur dan bermurah hati. Dalam masyarakat saat ini, kemurahan hati yang sejati adalah hal yang langka karena segala sesuatu tampaknya memiliki motif tersembunyi. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” Seberapa sering kita menghargai apa yang telah diberikan kepada kita? Kesulitan untuk melihat kebaikan dalam hidup kita, mungkin disebabkan oleh budaya konsumerisme atau sifat manusia yang egois.

Kerajaan Allah dimaksudkan untuk dibagikan secara cuma-cuma kepada semua orang, tanpa mengharapkan balasan apapun. Pesan Injil adalah hadiah paling berharga yang tidak ternilai dan harus diberikan tanpa pamrih. Misi untuk membagikan sukacita Injil adalah milik semua orang, bukan hanya untuk para teolog dan mereka yang ditahbiskan.

Misi untuk membagikan Injil adalah tentang “mengalah” dan “menyerah”, melepaskan cara kita sendiri, posisi kita, atau preferensi kita dengan kelembutan atau senang hati. Untuk membagikan Injil perlu menjadi pendengar yang sabar, berbicara dengan kerendahan hati, dan tidak menjadikan “saya” sebagai fokus pembicaraan. Bahkan dalam aktivitas sehari-hari kita dapat membagikan sukacita Injil dengan memberikan perh-HATI-an kepada sesama, dengan memberikan pertolongan dan melakukan bantuan kecil dengan sukacita dan ringan hati.

Ya Allah, Engkau mengutus kami semua untuk membuat kerajaan-Mu dikenal dengan cara kami menghidupi Injil Yesus Kristus, Putra-Mu. Berikanlah kami semangat misi dan jangan biarkan kekhawatiran hari ini atau beban harta benda menghalangi kami untuk memberikan kesaksian bahwa Engkaulah Allah kami dan bahwa Yesus adalah Tuhan. Amin.

Author

Write A Comment