Sabda Hidup
Jumat, 30 Mei 2025, Jumat Pekan Paskah VI
Bacaan: Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a.
“Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”
[Yoh 16: 20]
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita menangis dan meratap. Dan itu wajar. Air mata bukanlah kelemahan; itu adalah bahasa jiwa. Air mata berbicara tentang rasa sakit, kehilangan, dan kesepian ketika kita merasa Tuhan jauh. Tangisan dan ratapan berbicara ketika kata-kata gagal mengungkapkannya. Bahkan Yesus pun menangis. Dalam air mata dan kesepian itu, Dia selalu lebih dekat dengan kita.
Namun Yesus juga berbicara tentang sukacita hari ini — sukacita yang tidak mengabaikan kesedihan, tetapi lahir darinya. “Kamu akan menangis dan berdukacita… tetapi kesedihanmu akan berubah menjadi sukacita.” Bukan sekadar digantikan — tetapi diubah. Ini bukan sukacita dunia. Ini bukan tawa yang pudar. Ini adalah damai sejahtera yang dalam yang dibawa oleh doa dan kepercayaan, sukacita yang datang ketika kita tetap setia, bahkan ketika malam terasa panjang.
Inilah yang harus kita pelajari: menanti dalam waktu Allah. Allah adalah kairos — bukan waktu pada jam kita, tetapi saat ketika anugerah menembus. Waktu Allah adalah saat rahmat. Penderitaan kita tidak diabaikan; sebaliknya, dipegang dalam tangan Allah. Waktu menyembuhkan. Anugerah memulihkan. Dan sakramen-sakramen — terutama Ekaristi dan Rekonsiliasi — membawa kita, menguatkan kita, menyembuhkan kita.
Ya, dunia mungkin tertawa saat kita menangis. Masih banyak yang mencemooh iman, sama seperti mereka pernah bersorak saat para martir mengorbankan nyawa mereka. Tetapi bersemangatlah — ini bukan akhir. Sukacita ada di cakrawala.
Seperti seorang ibu yang melahirkan, kata Yesus. Dalam kesakitannya, dia tidak melihat apa-apa selain itu. Tetapi ketika anaknya lahir, hatinya penuh. “Ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” Demikian pula, cobaan-cobaan akan berlalu, dan sukacita — sukacita yang lebih kuat dari kesedihan — akan tetap ada.
Jangan takut. Tetaplah bersama Yesus. Pada waktunya, air mata kita akan menjadi sukacita.
Tuhan, kuserahkan derita dan bebanku kepada-Mu. Kusatukan semua pada Salib-Mu dan percaya bahwa Engkau akan selalu ada dalam segala hal, berjalan bersamaku, sepanjang hidupku. Semoga aku tetap mengarahkan pandanganku pada tujuan akhir hidupku dan bersukacita dalam kasih setia-Mu. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
