Sabda Hidup
Selasa, 16 Juli 2024, Selasa Pekan Biasa XV
Bacaan: Yes 7:1-9; Mzm 48:2-3a.3b-4.5-6.7-8; Mat 11:20-24.
Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di situ Ia paling banyak melakukan mujizat-mujizat-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung….. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini.”
MAT 11: 20 – 21. 23
Dalam Injil hari ini Yesus mengecam tiga kota: Khorazim, Betzaida dan Kapernaum. Tiga kota tersebut terbentang tepat di utara Laut Galilea. Khorazim tak disebutkan di bagian lain dalam Injil. Betsaida adalah tempat asal Filipus, Andreas dan Petrus, dan tempat dimana Yesus menyembuhkan seorang yang buta. Kapernaum disebutkan beberapa kali dalam Injil dan merupakan tempat dimana banyak penyembuhan dan mukjizat Yesus dilakukan. Dapat dikatakan bahwa untuk suatu kurun waktu Kapernaum menjadi pusat pelayanan Yesus.
Yesus membandingkan kota-kota itu dengan Tirus dan Sidon yang adalah kota-kota yang melawan para nabi dari Perjanjian Lama dan dihukum Allah. Sedangkan menurut Kitab Kejadian, Sodom adalah kota yang dihancurkan oleh Allah karena kejahatannya pada zaman Abraham.
Yesus membandingkan tiga kota Yahudi itu dimana Ia melakukan banyak karya, dengan tiga kota Kafir yang dikenal karena kejahatan luar biasa dan dihancurkan Allah, dengan menyatakan bahwa pada Hari Penghakiman, tiga kota Yahudi tersebut akan dihakimi lebih keras, karena keengganan mereka yang lebih besar untuk bertobat. Orang-orang dari ketiga kota tersebut berkeras hati, meski mereka mendengarkan pewartaan Yesus dan mengalami banyak mukjizat. Mereka tetap tinggal dalam cara hidup dalam dosa. Mereka tidak peduli dan tidak menanggapi sabda-Nya, mereka menolak untuk mengubah hidup mereka.
Apa yang kita perlukan untuk mengubah cara hidup kita dan bertobat kembali ke kehidupan yang kudus? Hukuman? Penderitaan? Menunggu kita sakit? Menunggu kita dipermalukan? Bagian yang menyedihkan dari dosa adalah bahwa terkadang dosa itu tampak tidak berbahaya. Kadang-kadang kita membutuhkan pernyataan eksternal dan fisik untuk menyadari dampak buruknya yang esensial dan radikal. Tetapi bagi orang-orang yang keras hati, bukti yang kelihatan tidak cukup. Itulah yang terjadi pada orang-orang di Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum. Kita juga dapat mengatakan hal yang sama kepada banyak orang saat ini yang jatuh ke dalam dosa dan tidak mau mengenali tanda-tanda zaman yang mengundang pertobatan.
Kita hanya dapat berharap dan berdoa agar Roh Kudus menembus hati mereka. Kita hanya dapat berharap dan berdoa agar mereka melihat apa yang sedang hilang. Sebuah doa mengatakan, “… takutlah akan kehilangan surga dan kesakitan neraka.” Semoga kita tidak hanya melihat rasa sakit yang akan diberikan oleh neraka, tetapi juga rasa sakit karena kehilangan surga. Jika kita dapat menanggung rasa sakit neraka, dapatkah kita benar-benar menanggung rasa sakit karena kehilangan surga? Adalah misi Yesus untuk menyelamatkan kita. Dia akan melakukan segalanya untuk mencapai hal itu. Tetapi hal itu tidak dapat dilakukan tanpa kerja sama kita. Allah membutuhkan respons kita. Tanggapan itu adalah pertobatan.
Apakah yang dapat mengubah hidup kita? Apakah dosa ketidakpedulian juga bercokol dalam hidup kita? Hidup yang dibangun atas tumpukan dosa-dosa akan runtuh.
Allah Mahakuasa, bentuklah aku sesuai kehendak-Mu. Lindungilah aku dari bahaya yang akan datang yang dapat menyebabkan kehancuran. Amin.
