Sabda Hidup
Kamis, 22 Agustus 2024, Perayaan Wajib St. Perawan Maria Ratu
Bacaan: Yeh. 36:23-28; Mzm. 51:12-13.14-15.18-19; Mat. 22:1-14
Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.” [Mat 22: 9]
Hari ini Gereja merayakan peringatan St. Perawan Maria Ratu. Paus Pius XII menetapkan perayaan ini dalam kalender liturgi pada tahun 1954. Maria adalah Ratu karena dia adalah Bunda Kristus, Sang Raja, dan dia berpartisipasi dalam misi penebusan Yesus. Perayaan hari ini menyoroti keibuan rohani Maria di dalam Gereja dan mengingatkan kita bahwa “jika kita bertekun, kita juga akan memerintah bersama-sama dengan Dia” (2 Tim 2:12) sebab kita ambil bagian dalam “imamat rajani” Kristus (1 Ptr 2:9).
Yesus sendiri membandingkan Kerajaan Allah dengan sebuah pesta pernikahan dan menerima atau menolak undangan perjamuan itu adalah pilihan pribadi. Nyatanya, banyak yang memilih untuk tidak menghadiri perjamuan tersebut karena mereka berpikir bahwa mereka memiliki hal yang lebih baik untuk dilakukan. Orang-orang mementingkan diri sendiri dan menjauhkan diri mereka dari kasih kepada Tuhan dan sesama. Mereka mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan kesenangan pribadi.
Ketika prioritas kita adalah mengejar keuntungan dan kesenangan; ketika kita menyediakan waktu untuk bekerja, bersosialisasi, rekreasi, makan bersama, dan bermain… tetapi tidak ada waktu untuk Gereja, doa, atau Firman Tuhan… kita mengabaikan undangan-Nya.
Lebih jauh lagi, ketika segala sesuatu bergantung pada diri sendiri, bergantung pada apa yang saya inginkan, apa yang saya butuhkan, kita dapat menjadi kaku dan jahat. Pola pikir ini dapat menyebabkan seseorang bereaksi secara brutal dan bukan merespons dengan tepat, seperti ditunjukkan oleh para undangan dalam Injil yang menghina dan bahkan membunuh orang yang mengundang mereka.
Injil menunjukkan kepada kita bahwa kasih Allah tidak mementingkan diri sendiri dan tak pernah menyerah, bahkan ketika Ia menghadapi penolakan dan ketidakadilan. Allah terus mengulurkan undangan kasih-Nya, terlepas dari penolakan kita, dan bahwa kasih yang tak kenal lelah ini adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan kejahatan. Bagi kita, mencari pengampunan-Nya tanpa rasa takut adalah langkah yang menentukan untuk memasuki bangsal perjamuan untuk merayakan pesta cinta bersama-Nya. “Hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Mz 95: 7 – 8).
Tuhan, terima kasih telah mengundangku ke pesta-Mu yang berkelimpahan. Tolonglah aku untuk selalu menanggapinya dengan pantas.
