Sabda Hidup
Sabtu, 25 Januari 2025, Pesta Bertobatanya St. Paulus
Bacaan: Kis. 22:3-16 atau Kis. 9:1-22; Mzm. 117:1,2; Mrk. 16:15-18.
Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.
Kis 22: 15
Hari ini kita rayakan Pesta Bertobatnya St. Paulus. Sebelum pertobatannya, Saulus mengira bahwa dia adalah orang yang sangat baik. Dia mengira bahwa dia melakukan segalanya dengan sangat baik. Ia penuh semangat, sangat yakin akan arah yang dia jalani dalam hidup, dan sukses besar dalam lingkup orang-orang yang penting baginya.
Dia tidak tahu bahwa dia telah salah arah. Kemudian Tuhan masuk dalam hidupnya, menggoncangnya, membutakannya, melemparkannya ke tanah dan membuatnya bingung selama tiga hari.
Setelah bertemu dengan Kristus Yang Bangkit, dia berubah. Dia mengevaluasi kembali segala sesuatu dalam hidupnya dan menjadi seorang yang paling berpengaruh di Gereja selain Yesus sendiri. Paulus menerjemahkan pengalaman Yesus tidak hanya dari bahasa Aram ke dalam bahasa Yunani, tapi dari mentalitas Asia kepada mentalitas Eropa. Dia menjadi misionaris terbesar Gereja seperti yang kita ketahui, mendirikan gereja-gereja yang bertahan sampai hari ini, dan menulis dua pertiga dari Perjanjian Baru.
Pertobatan Paulus tidak hanya mengubahnya; pertobatannya mengubah dunia.
Apa makna Pesta Pertobatan St. Paulus ini bagi kita? Tuhan memanggil kita untuk mengubah cara kita menjalani hidup kita. Kita semua diundang oleh Tuhan untuk menjalani suatu transformasi, pertobatan, cara-cara baru dalam merasa, berpikir dan bertindak. Tidakkah Anda setuju bahwa kita semua memiliki hambatan untuk mengikuti Kristus dengan lebih dekat?
Salah satu contoh dari hambatan itu adalah cara kita memperlakukan sesama. Seperti Saulus, kita tidak dapat mengaku bahwa kita sungguh-sungguh melayani Tuhan dan pada saat yang sama “menganiaya” saudara dan saudari kita sendiri. Apapun yang kita lakukan terhadap sesama, bahkan yang paling kecil, kita lakukan bagi-Nya. Jika pertobatan kita otentik, kita akan berusaha untuk menahan diri dari segala bentuk “penganiayaan” terhadap orang lain: ketidaksabaran, kemarahan, ketidakpedulian, komentar negatif, menjelek-jekkan orang lain, atau meremehkan orang lain.
Terkadang Tuhan harus mengejutkan kita, bahkan menjatuhkan kita, untuk membuka mata kita terhadap apa yang sebenarnya kita lakukan terhadap orang lain. Ia melemparkan kita untuk mengubah kita. Semoga dengan perubahan cara kita memandang sesama, kita pun mengubah dunia. Bukankah perubahan dunia dimulai dari perubahan diri sendiri?
Ada sebuah cerita dalam buku Burung Berkicau (1994), karya Anthony de Mello SJ. Cerita itu berbunyi sebagai berikut:
Alkisah, Sufi Bayazid bercerita tentang dirinya seperti berikut ini: “Waktu masih muda, aku ini revolusioner dan selalu berdoa, Tuhan, berilah aku kekuatan untuk mengubah dunia. Ketika aku telah separuh baya dan sadar bahwa setengah hidupku sudah lewat tanpa mengubah satu orang pun, aku mengubah doaku menjadi, Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah semua orang yang berhubungan denganku: keluarga dan kawan-kawanku, dan aku akan merasa puas. Sekarang, ketika aku sudah menjadi tua dan saat kematian menjelang, aku mulai melihat betapa bodohnya aku. Doaku satu-satunya sekarang adalah, Tuhan, berilah aku rahmat untuk mengubah diriku sendiri. Seandainya sejak semula aku berdoa begitu, maka aku tidak begitu menyia-nyiakan hidupku!
Di akhir cerita, Anthony de Mello menulis selarik pesan: setiap orang berpikir mau mengubah umat manusia dan hampir tak seorang pun berpikir bagaimana mengubah dirinya sendiri.
Tuhan, Allah kami, semoga perayaan pertobatan Santo Paulus hari ini menjadi bagi kami juga, sebuah pengalaman yang mendalam pertobatan dan perjumpaan dengan-Mu. Amin.
