Remah Harian

TUHAN, TOLONGLAH AKU!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu 7 Agustus 2024, Rabu Pekan Biasa XVIII
Bacaan: Yer 31:1-7; MT Yer 31:10.11-12ab.13Mat 15:21-28.

Seorang ibu dari Kanaan dalam Injil hari ini tidak terpengaruh oleh “ketidakpedulian” Yesus. Kegigihannya berasal dari cintanya sebagai seorang ibu dan keyakinannya akan kemurahan hati Yesus untuk memenuhi permintaannya. Paus Fransiskus merefleksikan perikop ini dan menyoroti kegigihan perempuan itu, dengan mencatat bahwa cintanya mendorong imannya. Cinta yang menyayat hati dari perempuan itu untuk putrinya mendorongnya untuk bertahan meskipun menghadapi penolakan. Pada akhirnya, ia berlutut di hadapan Yesus dan memohon, “Tuhan, tolonglah aku” (ayat 25).

Yesus menggunakan perempuan yang rendah hati ini sebagai contoh iman yang tak tergoyahkan. Keteguhan hatinya untuk mencari pertolongan Kristus menjadi teladan bagi kita untuk tetap berpengharapan dan tidak kehilangan iman saat menghadapi tantangan hidup. Tuhan tidak berpaling dari kita saat kita menghadapi kebutuhan kita. Kadang-kadang mungkin tampak seperti Tuhan tidak memperhatikan permoho nankita, tetapi pengalaman-pengalaman itu mungkin dimaksudkan untuk memperkuat iman kita. Injil mengajarkan kita untuk terus memohon pertolongan, seperti perempuan dalam perikop Injil hari ini: “Tuhan, tolonglah aku!” dengan penuh ketekunan dan keberanian.

Ketika berbicara kepada kaum muda pada Asian Youth Day di Korea Selatan pada tahun 2014, Paus Fransiskus berkata, “Dalam kehidupan Kristiani Anda, Anda mungkin menemukan banyak kesempatan menyingkirkan orang asing, orang yang membutuhkan, orang miskin, dan orang yang patah hati. Dalam diri orang-orang inilah Anda sesungguhnya mendengarkan seruan perempuan dalam Injil: “Tuhan, tolonglah aku!”.

Seruan perempuan Kanaan itu adalah seruan setiap orang yang mencari kasih, penerimaan, dan persahabatan dengan Kristus: “Tuhan, tolonglah aku!” Marilah kita merespons seperti Kristus, yang menanggapi setiap seruan minta tolong dengan kasih, bela rasa, dan belas kasihan.

Tuhan, semoga kami memiliki hati dan rumah yang terbuka bagi mereka yang mengalami kesulitan: orang asing, pengungsi, pengangguran, orang miskin, korban diskriminasi dan penindasan. Semoga kami menanggapi kebutuhan mereka seperti Engkau menanggapi kebutuhan kami. Amin

Author

Write A Comment