Sabda Hidup
Senin, 18 November 2024, Senin Pekan Biasa XXXIII
Bacaan: Why 1:1-4; 2:1-5a; Mzm 1:1-2.3.4.6; Luk 18:35-43.
“Tuhan, supaya aku dapat melihat!”
(Luk 18: 41)
Sebuah artikel mengatakan bahwa 80% dari aktivitas kita tergantung pada mata kita. 80% itu bukan jumlah yang kecil. Maka orang yang buta secara total hanya mempunyai 20% sisanya. Mereka tidak dapat main sepak bola, bahkan hanya nonton pun tidak bisa. Lapangan kerja mereka terbatas, tidak bisa nonton film, tidak menikmati jalan-jalan di mall, dsb.
Injil hari ini berkisah tentang penyembuhan seorang buta. Orang buta itu memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Tetapi orang-orang di sekitarnya menyuruhnya diam: “Mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam.” Tetapi semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”
Orang buta itu menyebut Yesus: “Anak Daud.” Ia melihat jauh melebihi orang-orang sezamannya. Memanggil-Nya dengan gelar kehormatan “Anak Daud” menunjukkan imannya kepada Yesus. Dengan memanggil-Nya “anak Daud,” maka ia telah mengakui-Nya sebagai Mesias, Sang Juruselamat.
Yesus mungkin terkejut si buta itu memanggil-Nya dengan sebutan itu. Ia menyuruh agar orang itu dibawa kepada-Nya. “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” tanyanya. “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” pintanya. Melihat iman orang buta itu, Yesus berkata: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Seorang yang buta tidak dapat melihat adalah sebuah fakta. Namun ia yang tidak dapat melihat dengan matanya itu dapat melihat dengan mata iman, dengan mata hati. Acap kali, kita yang mempunyai mata yang lengkap untuk melihat, tidak ingin melihat. Kita menjadikan diri kita buta karena tidak ingin melihat kebutuhan sesama, seperti orang-orang lain dalam Injil hari ini. Kita melihat anak-anak kecil mengemis untuk bertahan hidup tapi kita berkata, “Ah..mereka itu toh ada yang mengorganisir…buat apa kita memberi.” Kita melihat orang mengalami kecelakaan tetapi kita berkata, “Itu urusan polisi. Buat apa merepotkan diri?” Seorang saudara datang, tetapi karena ia belum minta maaf atas kesalahannya maka saya tidak mau melihatnya.
Jadi, siapa yang ingin tidak kita lihat? Kepada siapa kita menutup mata? Tuhan memberi kita mata agar kita dapat melihat. Tuhan juga memberi kita hati agar dapat melihat dengan lebih baik.
Ada sebuah tulisan menarik tentang melihat, berjudul: “Aku Ingin Melihat Yesus Hari Ini.” Tulisan tersebut berkata seperti berikut ini.
Aku ingin melihat Yesus hari ini. Aku melihat seorang tua yang berdiri di samping pompa bensin, setelah ia berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya. Kami saling menyapa dan berbagi senyum, kemudian beranjak pergi.
Aku ingin melihat Yesus hari ini. Aku melihat seorang anak kecil yang lucu bersama ibunya saat aku keluar dari toko. Aku tersenyum kepada ibu itu dan kawan kecil itu mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan dan hatiku ketika aku berkata, “Halooo……” Dia tertawa, matanya berbinar-binar. Aku berdiri di sana tersenyum. Hati berbinar-binar karena sentuhan murni yang paling manis.
Aku ingin melihat Yesus hari ini. Saya melihat seorang ibu tua, terbungkuk-bungkuk dengan bakul digendongannya. Dia tampak sangat lelah. Aku melihatnya mencoba menyeberang jalan. Aku khawatir dia tidak akan berhasil ketika aku berkata kepadanya, “Mbah, saya temani menyeberang ya…”. Kupapah dia sampai di seberang jalan. Sesampainya di seberang jalan, ia tersenyum dan mengucapkan terima kasih dan aku merasa bahagia telah membantu.
Aku ingin melihat Yesus hari ini. Aku melihat seorang bapak di samping motorku, dia meminta uang receh dan aku memandangnya. Tanpa memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan uang receh itu, aku memberikannya kepadanya. Kulakukan dengan doa dan berkat. Lalu aku beranjak pulang.
Sahabat-sahabtku, aku benar-benar ingin melihat Yesus hari ini dan Dia benar-benar ingin melihatku juga.
Saat itulah aku menyadari bahwa kami telah saling bertemu sepanjang hari. Dia ada di dalam seorang pribadi yang berbeda setiap kali aku melihat-Nya tetapi itu adalah Dia. Wajah dan ekspresinya akan berbeda setiap kali aku bertemu, tetapi Dia selalu sama. Dia ingin melihat aku dan tahu apa yang akan aku lakukan setiap kali bertemu dengan-Nya.
Aku benar-benar ingin melihat Yesus hari ini dan aku memang berjumpa dengan-Nya sepanjang hari.
Semoga permohonan si buta dalam Injil hari ini menjadi permohonan kita juga: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”
