Sabda Hidup
Jumat, 16 Agustus 2024, Jumat Pekan Biasa XIX
Bacaan: Yeh. 16:1-15.60.63 atau Yeh. 16:59-63; MT Yes. 12:2-3.4bcd.5-6; Mat. 19:3-12.
Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Mat 19: 6)
Dapatkah dua orang benar-benar hidup bersama satu sama lain sebagai suami dan istri sampai mati? Melihat banyaknya perpisahan dan pernikahan yang gagal, generasi sekarang banyak yang mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin. Karena itu, banyak negara yang melegalkan perceraian. Permintaannya terlalu banyak. Tapi apakah ini sekadar masalah angka? Bagaimana dengan mereka yang tetap bersama dan dapat dikatakan “berhasil dalam pernikahan mereka?” Pada kenyataannya, jumlah mereka jauh lebih banyak daripada yang telah berpisah.
Sebagai seorang imam selama dua puluh empat tahun, memang tidak banyak pasangan yang saya berkati pernikahannya. Mungkin karena saya tidak berkarya di paroki. Dari semua yang saya berkati tak ada yang memberi kabar bahwa mereka sudah berpisah. Ada beberapa pasangan yang datang mengeluh tentang hidup perkawinan mereka, sejauh ini belum ada juga yang datang kembali dan mengatakan sudah berpisah.
Apa yang bisa kita katakan tentang mereka yang telah menikah selama dua puluh lima, tiga puluh, empat puluh, dan lima puluh tahun atau lebih? Mereka adalah orang-orang biasa yang saling mengasihi dan menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan pernikahan mereka. Sayangnya, saat ini, pernikahan yang baik dianggap sebagai pengecualian dan bukan sebagai aturan. Kenyataannya, masih banyak orang yang tetap menikah; hanya sedikit yang bercerai atau berpisah, hanya mereka lebih berisik saja. Pernikahan, seperti yang diajarkan oleh Kitab Kejadian dan Injil, adalah hal yang sakral dan tidak dapat dibubarkan dengan cara hukum atau cara manusiawi apa pun.
Pasangan dapat menjalani pernikahan mereka – bukan tanpa banyak kesulitan tetapi dengan banyak bantuan dari Tuhan. Mungkin ada pasangan yang pada dasarnya tidak dapat didamaikan. Tetapi mereka sangat jarang dan seharusnya menjadi pengecualian. Menyetujui perceraian sebagai jalan keluar nampaknya jadi jalan pintas. Walau demikian, kita berempati juga kepada mereka yang telah berpisah atau bercerai. Nasihat apostolik Paus Fransiskus tentang cinta dalam keluarga, Amoris Laetitia, membantu kita untuk memahami tantangan yang dihadapi pasangan yang sudah menikah dan bagaimana pernikahan mereka dapat hancur karena berbagai alasan.
Pernikahan bukan hanya sebuah persatuan sekuler yang menghiasi keluarga dengan anak-anak, tetapi juga sebuah persatuan rohani yang memperkaya Gereja dengan para anggotanya. Ini adalah sebuah panggilan untuk melayani umat manusia melalui keluarga. Ini adalah sebuah karya penyelamatan yang dihasilkan dari ketaatan pada perintah-perintah Allah.
Apa peran Tuhan dalam pernikahan dan kehidupan keluarga Anda? Apakah Tuhan menjadi pusat hidup keluarga anda?
Ya Tuhan, lindungilah pernikahan dan keluarga-keluarga kami dari segala serangan jahat. Amin.
