Sabda Hidup
Minggu, 2 Maret 2025, Minggu Biasa VIII Tahun C
Bacaan: Sir. 27:4-7; Mzm. 92:2-3.13-14.15-16; 1Kor. 15:54-58; Luk. 6:39-45.
Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya,” [Luk 6: 45]
Dalam Angelus 10 September 2023 yang lalu Paus Fransiskus berbicara tentang gosip: “Ini tidak benar, saudara dan saudari. Gosip adalah sebuah wabah dalam kehidupan manusia dan komunitas karena gosip menyebabkan perpecahan, menyebabkan penderitaan, menyebabkan skandal; gosip tidak pernah membantu siapa pun untuk menjadi lebih baik atau bertumbuh.” Lebih lanjut ia berkata: “Menudingkan jari tidaklah baik; pada kenyataannya, hal itu sering membuat orang yang bersalah semakin sulit untuk mengakui kesalahannya.” Sebaliknya kita diajak untuk mendekati orang tersebut dengan doa dan kasih, selalu siap untuk memberikan pengampunan, pengertian, dan memulai kembali.”
Hari ini Yesus menarik perhatian kita pada hal-hal praktis dalam kehidupan Kristen dan menantang kita untuk menggunakan kata-kata kita sebagaimana Dia menggunakan kata-kata-Nya dalam pengajaran dan penyembuhan – untuk menyembuhkan, memulihkan, dan mengembalikan kehidupan, sukacita, dan pengharapan. Bacaan hari ini juga mengajak kita untuk membagikan kehidupan Kristen, kasih, dan kesehatan rohani melalui kata-kata kita, dan untuk menghindari bergosip serta memberikan penilaian yang gegabah, tanpa berpikir panjang, dan menimbulkan rasa sakit kepada orang lain, sehingga merusak nama baik mereka dan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
Pelajaran Kitab Suci dari Bacaan-Bacaan Hari Ini
Bacaan pertama, yang diambil dari Kitab Sirakh, mengajarkan bahwa apa yang ada di dalam diri kita terungkap melalui percakapan kita – seperti gandum dan sekam yang dipisahkan dalam ayakan petani, seperti kualitas tanah liat yang dibentuk dalam api tembikar, dan seperti ukuran dan kualitas buah dari sebuah pohon yang menunjukkan perawatan yang diterima dari penanamnya. Pengajaran Putra Sirakh menjadi pengantar yang sangat baik untuk Bacaan Injil hari ini, yang mengingatkan kita, agar menahan diri untuk menghakimi, untuk berpikir sebelum berbicara, karena apa yang keluar dari mulut kita mengungkapkan isi hati kita.
Dalam bacaan kedua, Santo Paulus menasihati jemaat Korintus untuk berdiri teguh, tabah, senantiasa mencurahkan segenap tenaga untuk pekerjaan Tuhan, sebab dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payah kita tidak sia-sia. Itu jauh lebih penting daripada membuang-buang waktu untuk pembicaraan yang sia-sia dan berdosa, yang mendatangkan hukuman, bukannya kemenangan kebangkitan dan pahala yang kekal.
Injil hari ini diambil dari Khotbah di Bukit yang ditulis dalam Injil Lukas. Di sana Yesus mengutuk penilaian kita yang ceroboh, jahat, dan gegabah terhadap perilaku, perasaan, motif, atau tindakan orang lain dengan menggunakan contoh-contoh jenaka seperti seorang buta yang menuntun orang buta lainnya dan seorang dengan sebatang kayu yang menancap di matanya, mencoba mengeluarkan selumbar dari mata orang lain. Yesus tidak bermaksud bahwa kita tidak boleh mengoreksi perilaku buruk dan tidak bermoral, atau berhenti menasihati anak-anak dan murid-murid sebagai orang tua dan guru, atau lebih buruk lagi, mempromosikan relativisme moral. Dalam Injil Matius dan Lukas, larangan menghakimi dikuti dengan pernyataan yang menunjukkan bahwa hal itu merupakan penjabaran dari Aturan Emas – gagasan bahwa kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita sendiri ingin diperlakukan. Ketika Yesus berkata, “Jangan menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi,” maksudnya adalah: “Jangan menghakimi atau Tuhan akan menghakimimu”.
Pesan Untuk Kehidupan Kita
Mari kita menahan diri dari kecenderungan menghakimi orang lain karena:
- Tidak ada seorang pun kecuali Tuhan pantas untuk menghakimi karena hanya Tuhan yang melihat seluruh kebenaran, dan hanya Dia yang dapat membaca hati manusia. Oleh karena itu, hanya Dia yang memiliki kemampuan, hak, dan otoritas untuk menghakimi kita.
- Kita tidak melihat semua fakta atau keadaan atau kekuatan godaan yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang jahat.
- Kita sering kali berprasangka dalam menghakimi orang lain, dan keadilan yang sepenuhnya tidak dapat diharapkan dari kita, terutama ketika kita menghakimi orang-orang yang dekat atau yang kita sayangi.
- Kita tidak berhak menghakimi karena kita memiliki kesalahan yang sama dengan sesama, kita cenderung cepat menghakimi padahal mempunyai kesalahan yang lebih besar, seperti seorang dengan balok di matanya yang mencoba mengeluarkan selumbar dari mata orang lain. St. Philipus Neri berkomentar, ketika melihat kelakuan buruk seorang pemabuk: “Begitulah Philipus, kecuali karena kasih karunia Allah.” Abraham Lincoln mengatakan bahwa satu-satunya orang yang memiliki hak untuk mengkritik adalah orang yang memiliki hati untuk membantu.
- Oleh karena itu, kita harus menyerahkan semua penghakiman kepada Allah, berusaha mempraktikkan belas kasihan dan pengampunan, dan berdoa memohon kasih karunia Allah untuk menyingkirkan segala bentuk kemunafikan dalam hidup kita.
Marilah kita mengingat peringatan orang-orang kudus: “Apabila kamu menudingkan satu jari untuk menuduh orang lain, maka tiga jarimu yang lain akan menuding dirimu sendiri.”
Suatu ketika, seorang Romo menyampaikan khotbah tentang karunia-karunia rohani dalam misa. Sesudah misa, ia disambut di depan pintu oleh seorang wanita yang berkata, “Romo, saya yakin saya memiliki karunia untuk mengkritik.” Ia menatap wanita itu dan bertanya, “Ingatkah Anda dengan orang dalam perumpamaan Yesus yang memiliki satu talenta? Apakah Anda ingat apa yang ia lakukan dengan talenta itu?” “Ya,” jawab wanita itu, ”ia pergi dan menguburkannya.” Sambil tersenyum, Romo itu menyarankan, “Pergilah dan lakukanlah hal yang sama!”
Tuhan, bantulah kami untuk bertobat agar menghasilkan buah-buah kasih dalam hidup kami. Bantulah kami menghidupi belas kasih dan pengampunan.
