Remah Mingguan

TERLALU FAMILIAR UNTUK DIHARGAI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 7 Juli 2024, Minggu Biasa XIV Tahun B
Bacaan: Yeh. 2:2-5Mzm. 123:1-2a,2bcd,3-42Kor. 12:7-10Mrk. 6:1-6.

MRK 6: 3

Injil hari Minggu ini mengisahkan kembalinya Yesus ke Nazaret, kota kelahiran-Nya di mana Ia ditolak oleh kaum-Nya sendiri. Orang banyak mengaguminya, mereka berduyun-duyun datang kepadanya. Namun, keberhasilan-Nya mulai membuat para pemuka agama khawatir.

Markus sang penginjil melaporkan kejadian ini dengan sebuah pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang yang mendengarkan Yesus di Sinagoge. “Mereka berkata, ‘Dari mana orang ini mendapatkan semua ini? Bukankah Ia adalah tukang kayu, anak Maria?”

Orang Yahudi adalah komunitas patriarkal, di mana seorang anak laki-laki selalu diidentifikasikan sebagai anak laki-laki dari ayah, dan tidak pernah sebagai anak laki-laki dari ibu. Nama ibu jarang digunakan untuk mengidentifikasi anak-anak. Bahkan ketika sang ayah sudah meninggal, nama itu selalu digunakan untuk menyebut sang ayah. Ketika mereka menyebut nama ibu, itu adalah cara untuk mengatakan bahwa ayah dari orang tersebut diragukan, tidak pasti; “Anak Maria”, oleh karena itu, adalah sebuah pelanggaran. Penginjil Matius melaporkan kejadian itu dengan mengatakan, “Bukankah dia anak tukang kayu”, tetapi tidak menyebutkan namanya.

Mengapa mereka menolak Dia? Jawaban sederhananya adalah karena iri hati. Para pemimpin bangsa itu tahu bahwa Yesus benar dalam ajaran-Nya dan melakukan perbuatan-perbuatan besar. Mereka memang mengagumi Dia. Tetapi Dia terlalu akrab bagi mereka untuk dihargai. Jadi, mereka mencari alasan untuk menjebak-Nya. Dengan demikian mereka menyadari bahwa Yesus sering kali bertentangan dengan tradisi nenek moyang dan melanggar hari Sabat ketika orang-orang membutuhkan. Dia sering mengunjungi rumah-rumah pemungut cukai dan orang-orang berdosa; Dia menyentuh orang-orang kusta, Dia menyatakan wajah Allah yang mengasihi semua orang, tidak menganggap siapa pun najis, tidak menolak siapa pun, mengampuni orang-orang berdosa tanpa terlebih dahulu menanyakan apakah mereka sudah bertobat atau belum.

Yesus datang ke Nazaret dengan harapan dan ekspektasi yang tinggi. Namun, Dia memiliki kesimpulan yang pahit dalam perjalanan-Nya. Mengutip sebuah pepatah, dia berkata: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Ada juga referensi yang sama di awal Injil Yohanes: “Ia datang kepada orang-orang kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya sendiri tidak menerima-Nya.”

Saat ini tidak ada kekurangan nabi, tetapi kita menolak untuk menerima mereka, hanya karena kita mengenal mereka. Kita menggunakan argumen yang sama dengan yang digunakan oleh orang-orang sebangsa Yesus. Dan kita menutup diri kita terhadap kemungkinan-kemungkinan, cara-cara dan harapan-harapan baru yang Tuhan bukakan kepada kita melalui mereka. Tentu saja, mereka memiliki kelemahan seperti kita semua, tetapi melalui mereka Roh Kudus berbicara. Jika kita tidak mendengarkan mereka, sayang sekali, rahmat yang dibawanya kita lewatkan!

Siapakah para nabi bagi Anda saat ini? Sejauh mana Anda mendengarkan mereka? Apakah Anda merasa bahwa, jika Anda mendengarkan mereka, Anda dapat hidup atas cara yang berbeda?

Bapa, berilah kami Roh Kudus agar hati kami senantiasa terbuka terhadap sabda-Mu yang Engkau sampaikan melalui “nabi-nabi” di sekitar kami. Amin.

Author

Write A Comment