Remah Harian

TANPA LELAH MENABUR BENIH KERAJAAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 29 Januari 2025, Rabu Pekan Biasa III
Bacaan: Ibr. 10: 11-18Mzm. 110:1,2,3,4Mrk. 4:1-20.

Biasanya, permenungan atas perumpamaan tentang seorang penabur kita pandang dari sudut kita sebagai tanah di mana benih ditabur. Kali ini saya ajak anda memandang dari sudut kita sebagai mitra Allah dalam menabur benih Kerajaan Allah.

Perumpamaan ini menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memperlakukan kita dalam membangun Kerajaan-Nya di antara kita. Perumpamaan itu menyadarkan kita, bahwa untuk bekerja bagi Allah, dan bekerja dengan semangat Allah maka:

  • Kita harus bekerja dengan sabar. Menabur benih adalah pekerjaan yang melelahkan punggung. Penabur harus membungkuk dan menaburkan/menanam benih yang baik dekat dengan tanah yang baik. Jika kita sekadar menyebarkan benih tanpa membungkuk dekat dengan tanah, maka risiko bahwa banyak benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu atau di tengah semak duri menjadi lebih besar. Dengan membungkuk dekat dengan tanah yang baik, maka benih yang ditabur tidak akan terbuang percuma.
  • Benih Kerajaan bukan tanpa tantangan. Ungkapan-ungkapan tentang pemborosan, kegagalan, dan prospek yang mengecewakan adalah elemen penting dari perumpamaan Yesus. Hal ini mencerminkan realitas dunia di mana kejahatan tampak jauh lebih kuat, lebih efisien daripada kebaikan. Dalam banyak kasus, benih tidak bertunas, yang bertunas tidak bertumbuh, yang bertumbuh menjadi layu. Mengapa hal ini terjadi? Jika Allah itu baik, mengapa Kerajaan-Nya tidak bertumbuh tanpa tantangan? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab oleh Yesus. Sang Penabur dalam perumpamaan ini tampaknya bekerja dengan sia-sia dan membuang-buang benih dan tenaganya. Yesus menceritakan perumpamaan ini pada saat-saat yang sulit dalam hidup-Nya. Di Nazaret Dia ditolak, di Kapernaum Dia dianggap gila, orang-orang Farisi ingin membunuh-Nya, dan para murid meninggalkan-Nya. Sepertinya semua khotbah-Nya menjadi sia-sia. Kondisinya terlalu tidak menguntungkan; firman-Nya tampaknya ditakdirkan untuk mati (bdk. Mat. 11-12). Dengan perumpamaan ini, Ia ingin menyampaikan pesan kepada murid-murid-Nya yang patah semangat dan meragukan manfaat dari kerasulan yang Ia lakukan. Terlepas dari semua pertentangan dan rintangan yang ada, firman-Nya akan menghasilkan buah yang berlimpah karena firman itu sendiri memiliki kekuatan kehidupan yang tak tertahankan.
  • Kita harus bekerja dengan murah hati. Hanya seperempat dari benih yang ditaburkan itu menghasilkan buah, tetapi sang penabur tak pernah berhenti menabur benih. Hasil yang sedikit tak boleh membuat kita putus asa.

Semoga kita tidak hanya menjadi tanah yang menerima benih, tetapi kita juga menjadi rekan kerja SANG PENABUR yang baik, yang bekerja dengan tekun dan tanpa kenal lelah.

Tuhan, meski banyak tantangan, kuatkan kami dalam usaha kami menjadi rekan-rekan kerja-Mu untuk menabur benih-benih Kerajaan-Mu dengan tekun dan tanpa kenal lelah. Amin.

Author

Write A Comment