Sabda Hidup
Sabtu, 5 Oktober 2024, Sabtu Pekan Biasa XXVI
Bacaan: Ayb 42:1-3.5-6.12-17; Mzm 119:66.71.75.91.125.130; Luk 10:17-24.
Janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” [Luk 10: 20]
Salah satu ciri khas seorang Kristen adalah memiliki sukacita. “Sukacita,” kata Pierre Teilhard de Chardin, “adalah kehadiran Allah yang sempurna.” Sukacita seperti itu bukanlah sebuah perasaan atau emosi yang spontan, melainkan sebuah keyakinan, keyakinan akan Allah yang berkarya. Kristus yang Bangkit terus menginspirasi dan menguatkan kita saat kita menghadapi cobaan dan kesengsaraan hidup sehari-hari.
Dalam Injil hari ini, ke-70 murid melaporkan kepada Yesus tentang keberhasilan misi mereka. Mereka tidak hanya berbuah dalam pelayanan pengajaran dan penyembuhan, tetapi juga dalam mengusir setan dalam nama Yesus. Yesus menegaskan kuasa tersebut: “Aku telah melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18). Setan dikalahkan saat Yesus dan para murid memberitakan Injil. Kejahatan ditaklukkan saat Kerajaan Allah ditegakkan.
Para murid sangat bersukacita, namun Yesus dengan cepat mengingatkan mereka akan bahaya kesombongan dan ambisi. Alasan yang tepat untuk bersukacita terletak pada harapan untuk mencapai surga. Imbalan yang lebih besar bagi para murid bukanlah uang atau kehormatan, melainkan keintiman yang mendalam dengan Tuhan, sebuah hubungan yang membawa iman dan pertobatan. Adalah hal yang manusiawi untuk merasa bangga dengan pencapaian seseorang, tetapi kesuksesan seharusnya membuat kita menjadi lebih rendah hati dan lebih murah hati. Kita tetaplah hamba yang tidak layak, dipercaya dan diberdayakan oleh Tuhan dengan tugas kesaksian dan pewartaan. Efektivitas dalam pekerjaan atau pelayanan kita bukanlah hasil usaha kita sendiri; hal itu terjadi ketika kita mengizinkan Tuhan untuk bekerja bersama kita dan melalui kita.
Suatu ketika, saya menghadiri pesta emas profesi religius seorang suster. Suster ini melayani sebagai misionaris di Afrika untuk waktu yang lama, kemudian pulang Indonesia dan mendampingi anak-anak di panti asuhan. Dengan memegang tongkat di tangannya, ia diantar ke mimbar untuk menyampaikan ucapan syukur. Tepuk tangan meriah segera membahana. Dengan mata berkaca-kaca, ia tersenyum dan berkata, “Bukan untuk saya, tetapi untuk Tuhan!” Hadirin bertepuk tangan lebih meriah lagi….
Apakah Anda mendapatkan kesuksesan dan popularitas dalam apa yang Anda lakukan? Berhentilah sejenak dan renungkan – apa peran Tuhan dalam hal itu? Apa kontribusi Anda?
Tuhan, berilah aku rahmat untuk selalu rendah hati dan lebih banyak berbagi. Semoga cahaya-Mu bersinar dalam segala hal yang kulakukan. Amin.
