Sabda Hidup
Jumat, 18 April, Jumat Agung
Bacaan: Yes. 52:13-53:12; Mzm. 31:2,6,12-13,15-16,17,25; Ibr. 4:14-16; 5:7-9; Yoh. 18:1-19:42.
“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.” [Yes 53: 3]
Kata-kata nabi Yesaya, “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan,” (Yes 53:3), membuka Liturgi Sabda hari ini. Kata-kata ini berbicara tentang seorang hamba yang menderita, yang penolakan dan penderitaannya diwujudkan dalam pribadi Yesus dari Nazaret. Hari ini, kita renungkan Dia sebagai perwakilan dari semua orang yang dihina, dicabut hak-haknya, dan dibuang oleh dunia, mereka yang dihindari oleh masyarakat, terhadap mereka khalayak memilih untuk tidak melihat penderitaan mereka.
Sejak kelahiran-Nya, Yesus tidak asing dengan penolakan. Lahir di kandang yang sederhana karena “tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Lukas 2:7), Dia tumbuh tanpa hak istimewa. Persembahan keluarga-Nya di Bait Allah, dua ekor burung tekukur atau Dua ekor anak burung merpati (persembahan[ orang miskin), adalah simbol kemiskinan mereka. Bahkan dalam pelayanan-Nya di depan umum, Dia tidak memiliki rumah, tanpa “tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Matius 8:20). Seluruh hidup-Nya ditandai dengan solidaritas dengan mereka yang terpinggirkan.
Ketika kita beralih ke sengsara-Nya, sebuah momen yang sering kali diabaikan tetapi penuh dengan makna menjadi menonjol: Yesus di pengadilan Pilatus, diejek dan disiksa. Para prajurit memakaikan mahkota duri di kepala-Nya, mengenakan jubah berdarah, dan memberi-Nya buluh sebagai simbol ejekan. Dalam hal ini, Yesus menjadi prototipe dari semua orang yang dihina, ditindas, dan dilecehkan. Seruan Pilatus, “Ecce homo!” (“Lihatlah manusia ini[!”), mengungkapkan paradoks besar dari salib: Dia yang ditolak dan dihina menjadi simbol harapan dan penebusan bagi semua orang yang hancur. Pilatus membuat pernyataan abadi: sambil menunjuk ke arah orang yang hancur, terhina dan dihukum, dia berkata, “Inilah keadaan manusia.” Namun, yang tidak diketahui oleh Pilatus adalah bahwa Allah sendiri hadir dalam kehancuran dan penghinaan manusia.
Namun, meskipun ini adalah dimensi yang signifikan dari Sengsara Kristus, makna yang paling dalam terletak di luar dunia sosial dan manusia. Salib bukan hanya simbol solidaritas dengan mereka yang tertindas, tetapi juga pintu gerbang spiritual menuju penebusan. Kematian Yesus bukan hanya kematian seorang bangsawan; itu adalah kematian yang membawa dunia kembali dari dosa, menaklukkan maut dan menawarkan kehidupan kekal. Kebangkitan Kristus memastikan bahwa kata terakhir dalam sejarah manusia bukanlah penindasan, melainkan kemenangan.
Bagi mereka yang memiliki kekuasaan dan pelbagai macam privelese, salib berfungsi sebagai peringatan. Salib mengingatkan mereka bahwa kekuatan mereka bersifat sementara, dan mereka juga tunduk pada nasib yang sama dengan seluruh umat manusia. Ilusi kemahakuasaan itu berbahaya, dan merupakan godaan yang terus menerus bagi mereka yang berkuasa, seperti yang ditunjukkan oleh sejarah.
Gereja, sebagai suara mereka yang tak bersuara, harus terus berdiri bersama mereka yang miskin dan tertindas, mengatasi ketidakadilan yang masih ada di dunia saat ini. Pesan salib bukan hanya sebuah seruan untuk solidaritas tetapi juga sebuah seruan untuk transformasi, untuk membalikkan dunia yang terikat oleh kekuasaan, keserakahan dan ketidakpedulian. Dalam arti ini, kurban salib sudah selesai tapi juga belum selesai…sudah, tapi belum….
Tepat sebelum kematian-Nya di kayu salib, Yesus berkata: “Sudah selesai” atau “Sudah digenapi.” Apa yang digenapi? Yang sudah selesai dan digenapi adalah sengsara-Nya di kayu salib dan kehidupan serta tugas-Nya di dunia. Yang digenapi di dalam Dia adalah kehendak Bapa dan karya-Nya untuk membawa pengampunan dan kehidupan bagi manusia. Semua telah selesai sejauh menyangkut misi Yesus di bumi dan kita diyakinkan bahwa kejahatan tidak akan pernah menang lagi: Kemenangan akhir adalah milik Allah. Namun… yang belum tercapai adalah kerajaan keadilan dan cinta serta kasih di bumi. Karena tugas itu harus diselesaikan oleh kita, murid-murid Yesus, yang harus membiarkan Roh Yesus menyelesaikan pekerjaan itu di dalam diri kita dan bersama kita. Selama masih ada orang yang menderita kelaparan dan ketidakadilan, mereka menambah apa yang kurang dalam penderitaan Yesus dan kita, para murid, harus menyingkirkan kejahatan-kejahatan ini.
Nubuat Yesaya diakhiri dengan janji peninggian sang Hamba: “Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas” (Yesaya 53:11). Kebangkitan Kristus memberikan janji ini sebuah nama dan wajah. Sementara kita menantikan saat yang mulia ini, marilah kita merenungkan misteri salib, dengan mengetahui bahwa di dalam Kristus, setiap air mata akan dihapus dan setiap ketidakadilan akan dibatalkan.
Kami bersujud di hadapan-Mu ya Kristus, sebab dengan salib suci-Mu Egkau telah menebus dunia. Teguhkan kami dalam usaha kami menggenapi apa yang masih kurang dalam penderitaan-Mu, menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi. Amin.
