Remah Harian

SUARA YANG BERSERU-SERU

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 2 Januari 2025, Peringatan Wajib St. Basilius Agung dan St. Gregorius dari Nazianse
Bacaan: 1Yoh. 2:22-28Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4Yoh. 1:19-28

Pada awal sebuah drama, Anda perlu mengenal tokoh-tokohnya. Tiga kali para pemimpin agama – para imam dan orang-orang Lewi – dengan cemas menanyakan pertanyaan yang sama kepada Yohanes: “Siapakah engkau?”. Yohanes menjawab dengan mengatakan yang bukan dirinya: bukan Mesias, bukan Elia, bukan Nabi yang akan datang (yang sama pentingnya dengan mengatakan siapa dirinya). Kemudian ia berkata, “Aku adalah suara yang berseru-seru….” Itu sudah cukup. Ia adalah suara yang berbicara tentang Allah, sebuah jari yang menunjuk kepada hal baru yang sedang Allah lakukan di dalam dunia. Itulah identitas terdalamnya.

Tepatnya, ini adalah identitas-Nya, dan juga identitas kita.

“Siapakah Anda?” Bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang kita tanyakan satu sama lain hingga hari ini. Namun hari ini, kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, terutama kepada diri kita sendiri: “Siapakah saya? Bagaimana saya melihat diri saya sendiri?” Di dunia kita yang kompleks ini, ini bukanlah pertanyaan yang sepele. Banyak yang bersedia menawarkan identitas yang sudah jadi kepada kita. Banyak orang yang terjebak mengenakan identitas yang bukan jati dirinya itu.

“Di antara kamu ada seorang yang tidak kamu kenal. Kita tidak mengenalnya karena kita selalu memaksakan sebuah identitas kepadanya – meskipun kita selalu mencobanya. Yesus Katolik, Yesus Protestan, Yesus Baptis, Yesus Pentekosta, dst….

Ya, Yohanes dan kita juga tidak layak untuk membuka tali sandalnya. Pernyataan Yohanes ini biasanya dipahami sebagai pernyataan kerendahan hati Yohanes. Namun, pernyataan ini memiliki makna yang lebih jauh bagi para pembaca pada masa Yohanes, ketika Injil ini ditulis. Itu berarti mengambil hak untuk menikahi seorang wanita yang menjadi milik orang lain. (Ul. 25:5-10; Rm. 4:7).

Dengan menyatakan dirinya tidak layak untuk membuka tali kasut, Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa ia tidak memiliki hak untuk mencuri mempelai perempuan Kristus. Artinya, orang tidak boleh salah mengira dia sebagai Mesias atau nabi. Tidak ada yang layak untuk membandingkannya dengan Kristus. “Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh.” (Yoh. 3:28-29).

Kita memiliki misi yang sama dengan Yohanes Pembaptis dan akan sangat berharga untuk belajar darinya dalam kehidupan dan misi kita, sikapnya yang tidak lebih dari sebuah suara – menjadi Suara Kristus di dunia.

Seperti Yohanes, kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi Terang. Kita bukanlah sumber dari Terang itu, tetapi kita dimaksudkan untuk memantulkannya, menuntun orang lain kepada kebenaran dan kasih Yesus. Dengan demikian, kita menggemakan perkataan Kristus: “Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:14). Teladan Yohanes Pembaptis menantang kita untuk bertanya, “Apakah saya mengizinkan terang Kristus bersinar melalui diri saya?”

Kehidupan Yohanes Pembaptis yang penuh kerendahan hati dan dedikasi memberikan kita sebuah teladan. Dia menerima perannya dengan jelas dan penuh keyakinan, tidak berfokus pada dirinya sendiri tetapi pada Dia yang dilayaninya. Dalam hidup kita, kita juga dapat menjadi suara yang berseru di padang gurun dunia yang sering kali diselimuti kegelapan, mempersiapkan hati untuk menerima Yesus.

Ketika kita merenungkan teladan Yohanes, marilah kita berusaha untuk mewujudkan keberanian dan kerendahan hatinya, memastikan bahwa tindakan dan perkataan kita menuntun orang lain untuk mengenali dan mengikuti Kristus.

Tuhan, semoga Gereja dan kami semua dapat menjadi suara yang menunjuk kepada-Mu, menghantar orang kepada-Mu, sebagai sumber hidup, iman dan kebahagiaan kami. Amin.

Author

Write A Comment