Sabda Hidup
Jumat, 26 Juli 2024, Peringatan Wajib St. Yoakim dan St. Anna, Orang Tua St. Perawan Maria
Bacaan: Sir. 44:1,10-15; Mzm. 132:11,13-14,17-18; Mat. 13:16-17.
Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”
(Mat 13: 16 – 17)
Biasanya orang tua ada di belakang panggung. Memang ada juga orang tua yang menjadi ibu atau ayah yang “berperan di panggung” melebihi anaknya sendiri yang menjadi pemeran utama, tetapi biasanya sang anak sendiri menjadi tertekan karena harus mengikuti kemauan orang tua. Kebanyakan orang tua berada di balik layar menyaksikan anak-anak mereka beraksi, selain memberi kebebasan yang cukup kepada anak untuk mandiri, mereka memberikan keteladanan, inspirasi, dorongan dan bimbingan. Ketika anak-anak mereka mengalami kegagalan, merekalah yang pertama yang akan menyelamatkan anak-anak mereka. Bagaimanapun orang tua mempunyai peran terbesar akan menjadi apa anak-anak mereka.
Hari ini kita peringati Santo Yoakim dan Santa Ana, orang tua St. Perawan Maria. Dengan demikian mereka adalah Kakek dan Nenek Yesus. Tidak ada bukti-bukti historis tentang mereka kecuali sebuah tradisi sejak abad kedua Masehi, yang tertulis dalam sebuah dokumen yang disebut sebagai Injil St. Yakobus, meskipun dokumen tersebut bukanlah sumber historis ataupun Sabda Tuhan. Menurut kisah itu, setelah bertahun-tahun berkeluarga mereka tak kunjung dikaruniai anak. Mereka tiada henti berdoa agar mempunyai anak. Dari tahun ke tahun mereka berziarah dan berdoa di Bait Allah. St. Ana berjanji jika mereka dikaruniai anak, mereka akan mempersempahkan anaknya itu kepada Allah, seperti Samuel dipersembahkan oleh Hanna, ibunya seperti dikisahkan dalam Kitab Pertama Raja-Raja. Tuhan menjawab doa mereka. Mereka mempunyai anak dan menamainya Maria.
St. Yohanes dari Damaskus menulis: “Yoakim dan Anna, betapa bahagianya kalian! Seluruh ciptaan berhutang kepadamu. Sebab kepada kalianlah Sang Pencipta memberikan karunia di atas segala karunia: seorang bunda perawan, yang sungguh layak bagi-Nya.”
Entah siapapun mereka, kebenarannya adalah bahwa merekalah orang tua Maria. Merekalah yang mengajarnya, membesarkanya dan mendidiknya sehingga ia pantas menjadi Ibu Tuhan. Adalah didikan dan bentukan mereka yang menuntun Maria menjawab panggilan Tuhan dengan iman: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu.” Adalah keteladanan mereka yang menuntun Maria membesarkan Puteranya, Yesus. Adalah iman mereka yang menjadi dasar keberanian dan kekuatan bagi Maria sehingga ia mampu berdiri di bawah kaki salib Puteranya dan tetap percaya. Dalam arti itulah mereka mengalami apa yang dikatakan oleh Injil hari ini: berbahagia karena mata mereka melihat dan telinga mereka mendengar apa yang ingin dilihat dan didengar oleh para nabi dan orang benar. Sebab mereka secara inderawi mengalami bahkan mempersiapkan jalan keselamatan dalam diri Maria dan Yesus. Jika mereka berbahagia karena mereka mengalami secara inderawi, kita pun dapat berbahagia jika kita mengalami keselamatan itu dalam iman. Hidup sebagai orang-orang yang sungguh-sungguh beriman.
Semoga keluarga-keluarga kita menjadi seperti keluarga St. Yoakim dan St. Anna.
Ya Allah Bapa kami, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepada Santo Yoakim dan St. Anna, sehingga dari mereka lahirlah Bunda Putera-Mu yang menjelma manusia, karuniakanlah, melalui doa-doa mereka berdua, agar kami memperoleh keselamatan yang telah Engkau janjikan kepada umat-Mu. Dengan pengantaraan Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu, yang hidup dan memerintah bersama Dikau dalam kesatuan Roh Kudus, Allah, sampai sepanjang segala masa. Amin.
