Sabda Hidup
Jumat, 11 Oktober 2024, Jumat Pekan Biasa XXVII
Bacaan: Gal 3:7-14; Mzm 111:1-2.3-4.5-6; Luk 11:15-26.
Ada di antara mereka yang berkata: “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari sorga kepada-Nya, untuk mencobai Dia.” (Luk 11: 15 – 16)
Ketakjuban tidak selalu menghasilkan kepercayaan. Orang-orang takjub ketika Yesus menyembuhkan seorang yang tidak dapat berbicara karena suatu kekuatan jahat. Namun, alih-alih mengakui kuasa penyelamatan Allah yang bekerja, mereka malah menuduh Yesus menggunakan Beelzebul untuk melakukan penyembuhan tersebut.
Beelzebul atau sering disebut juga Beelzebub adalah bahasa Yunani nama Baal-Zebub, sosok dewa Filistin yang disembah di kota Filistin bernama Ekron pada zaman Perjanjian Lama ditulis. Julukan ini mengandung makna “dewa lalat” (2 Raja-Raja 1:2). Penggalian arkeologis di daerah-daerah Filistin mendapati patung-patung lalat yang terbuat dari emas. Setelah zaman Filistin berlalu, umat Yahudi mengubah namanya menjadi “Beelzebul,” sebuah kata yang berarti “dewa kotoran” yang digunakan dalam Perjanjian Baru bahasa Yunani. Julukan ini merujuk pada dewa lalat yang disembah guna menghindarkan diri dari penyakit yang berasal dari lalat. Beberapa sarjana Alkitab juga menganggap bahwa Beelzebub juga dikenal sebagai “dewa kecemaran,” yang kemudian dipakai sebagai umpatan oleh kaum Farisi. Oleh karena itu, Beelzebub merupakan dewa yang dibenci, dan namanya digunakan oleh orang Yahudi sebagai julukan bagi Setan.
Istilah ini terdiri dari dua bagian: Baal, nama dewa-dewi kesuburan bangsa Kanaan di dalam Perjanjian Lama, dan Zebul, yang berarti “kedudukan yang dihormati.” Jika kedua bagian tersebut digabungkan, maka terbentuklah nama bagi Setan, pangeran iblis. Istilah ini digunakan oleh kaum Farisi ketika merujuk pada Yesus dalam Matius 10:24-25. Sebelumnya, mereka telah menuduh Yesus mengusir Setan “dengan kuasa penghulu setan” (Matius 9:34), sebuah rujukan pada Beelzebul (Markus 3:22; Matius 12:24).
Di dalam Matius 12:22 Yesus menyembuhkan seorang buta dan bisu yang dirasuki iblis. Lukas 11: 14 Yesus menyembuhkan seorang yang dirasuki setan yang membisukan. Mengikuti kejadian itu, “maka takjublah sekalian orang banyak itu, katanya: ‘Ia ini agaknya Anak Daud.’ Tetapi ketika orang Farisi mendengarnya, mereka berkata: ‘Dengan Beelzebul, penghulu setan, Ia mengusir setan'” (Matius 12:23-24; Luk 11: 15).
Adalah menarik bahwa orang Farisi memberi reaksi yang bertolak belakang dengan kerumunan massa, yang oleh mujizat luar biasa itu menyadari Yesus diutus oleh Allah. Secara tidak langsung kaum Farisi mengakui bahwa Yesus melakukan tindakan supranatural, namun mereka menyebut kuasa itu berasal dari Beelzebul dan bukan Allah. Seharusnya mereka tahu bahwa iblis tidak dapat melakukan tindakan yang sepenuhnya baik. Akan tetapi, dalam kesombongan mereka, karena kaum Farisi ini tahu bahwa jika ajaran Yesus berakar dan berkembang, maka pengaruh mereka akan berakhir. Jadi, mereka tidak menyangkal mujizat itu, melainkan mengalihkan sumbernya pada “Beelzebul, penghulu setan.”.
Lukas menggambarkan ketidakmampuan orang tersebut untuk berbicara sebagai akibat dari kerasukan setan. Dalam masyarakat saat ini, ketika seseorang memilih untuk tidak berbicara demi kebenaran, keadilan, dan perdamaian atau terlalu takut untuk melakukannya, mereka berada di bawah pengaruh kekuatan jahat. Penting bagi kita untuk merenungkan apakah kita juga dirasuki oleh kekuatan jahat sehingga kita memilih untuk diam dan membutuhkan penyembuhan oleh tangan Tuhan.
Meskipun Yesus melakukan mukjizat-mukjizat yang menakjubkan yang membuat orang banyak kagum, musuh-musuh-Nya menolak untuk mengakui bahwa mukjizat-mukjizat itu adalah karya Allah. Meskipun para musuh Tuhan mengaku memiliki penglihatan, mereka memilih untuk bersikap seolah-olah mereka buta. “Tidak ada orang yang lebih buta daripada mereka yang memilih untuk tidak melihat.”
Mari kita berdoa untuk karunia penglihatan dan kemampuan berbicara agar dapat melihat kebenaran dan mengatakan hal yang benar pada waktu yang tepat.
Tuhan semoga kami dapat melihat dan berbicara, dapat melihat kebenaran dan menyuarakan kebenaran dan keadilan. Amin.
