Remah Harian

SENTUHLAH LUKA-LUKA ITU, TEMUKAN DIA YANG BANGKIT!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 3 Juli 2025, Pesta St. Thomas Rasul
Bacaan: Ef. 2:19-22Mzm. 117:1,2Yoh. 20:24-29.

“Yesus berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
(Yoh 20: 27 – 29)

Sangat sedikit yang disebutkan tentang rasul Thomas dalam Injil; salah satu teks menyebutnya sebagai “si kembar” atau “didimus”. Selama masa hidup Yesus, ia jarang menonjol di antara rekan-rekannya. Ada peristiwa sebelum kebangkitan Lazarus, ketika Yesus masih berada di Perea dan Thomas berseru: “Mari kita juga pergi dan mati bersama-Nya.” Yang paling terkenal adalah ungkapan ketidakpercayaannya setelah kematian Sang Penyelamat, yang melahirkan istilah “Thomas si peragu.” Namun, bagian yang menggambarkan insiden tersebut, yang menjadi bacaan Injil hari ini, dapat dikatakan sebagai salah satu yang paling mengharukan dalam Kitab Suci.

Dalam pengajaran Breviarium, Paus Santo Gregorius Agung menyampaikan refleksi berikut: “Ketidakpercayaan Thomas telah memberikan manfaat lebih besar bagi iman kita daripada keyakinan para murid lainnya; karena ia mencapai iman melalui sentuhan fisik, kita dikuatkan dalam iman tanpa ragu. Sesungguhnya, Tuhan mengizinkan rasul itu untuk ragu setelah kebangkitan; tetapi Ia tidak meninggalkannya dalam keraguan. Melalui keraguannya dan sentuhannya pada luka-luka suci, rasul itu menjadi saksi kebenaran kebangkitan. Thomas menyentuh dan berseru: Ya Tuhanku dan Allahku! Dan Yesus berkata kepadanya: “Karena engkau telah melihat Aku, Thomas, engkau telah percaya.” Jika Thomas telah melihat dan menyentuh Sang Penyelamat, mengapa Yesus berkata: Karena engkau telah melihat Aku, Thomas, engkau telah percaya? Karena ia melihat sesuatu yang berbeda dari apa yang ia percayai. Sebab tidak ada manusia fana yang dapat melihat keilahian. Thomas melihat Manusia Kristus dan mengakui keilahian-Nya dengan kata-kata: Ya Tuhanku dan Allahku. Iman pun mengikuti penglihatan.”

Mengenai peristiwa-peristiwa selanjutnya dalam kehidupan rasul tersebut, informasi yang tersedia sangat sedikit. Martyrology mencatat: “Di Calamina (dekat Madras di India), rasul Thomas menjadi martir — ia memberitakan Injil kepada orang-orang Parthia, dan akhirnya datang ke India. Setelah ia mempertobatkan banyak suku ke Kekristenan, ia ditikam dengan tombak atas perintah raja.”

Setiap kali kita merayakan Pesta Santo Thomas kita diingatkan bahwa iman bukanlah dongeng. Iman lahir dari luka-luka yang nyata — luka-luka Kristus dan luka-luka kita sendiri. Thomas tidak berada di tengah komunitas ketika Yesus pertama kali menampakkan diri. Ia membawa kekecewaan, keraguan, mungkin bahkan kemarahan. Namun ketika ia kembali, Yesus tidak menegurnya. Ia hanya berkata: “Letakkan jarimu di sini… janganlah ragu, tetapi percayalah.”

Perhatikan di mana Yesus menempatkan Thomas: ia ditempatkan kembali di tengah komunitas, di Ruang Atas, tempat ketakutan dan doa bercampur. Seolah-olah Ia berkata kepada kita: “Jika kamu ingin bertemu Aku, tinggallah bersama saudara-saudaramu. Jangan mencari di tempat lain, jangan pergi. Jangan melarikan diri. Luka-luka-Ku ditemukan di dalam komunitas.” Hari ini, Tuhan berkata hal yang sama kepada kita: Tinggallah. Berdoalah bersama, berbagilah roti bersama, berbagilah ketakutan dan kecemasan bersama. Di situlah kamu akan menemukan kehadiran-Ku yang hidup.

Di mana kita menyentuh luka-luka ini sekarang? Paus Fransiskus mengingatkan kita: pada diri mereka yang menderita — yang lapar, yang dipenjara, yang kecanduan, yang terlupakan. Ketika kamu mendekati mereka dengan belas kasih, kamu meletakkan tanganmu di lambung Kristus. Dan seperti Thomas, kamu berpindah dari keraguan ke penyembahan: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Ketika cobaan datang, apakah aku mengisolasi diri, atau apakah aku kembali ke komunitas? Ketika aku mencari Yang Bangkit, apakah aku mengejar tanda-tanda luar biasa, ataukah aku melihat ke hal-hal biasa: perayaan Ekaristi, orang miskin, saudara-saudari yang diberikan Allah kepadaku?

Luka-luka Kristus masih terbuka, saluran cinta dan belas kasihan. Semoga kita menjadi Gereja dengan pintu terbuka, tangan terbuka, hati terbuka, sehingga semua yang terluka oleh hidup dapat menemukan dalam diri kita kelembutan Allah.

Ya Allah yang hidup, mata kami belum melihat Putra-Mu Yesus Kristus dan jari-jari kami belum menyentuh luka-luka-Nya, namun kami telah berkumpul dalam nama-Nya. Jadikan iman kami kepada-Nya semakin dalam dan teguh. Amin.

Author

Write A Comment