Sabda Hidup
Senin, 27 Maret 2023, Senin Pekan Prapaskah V
Bacaan Misa hari ini: Dan. 13:1-9,15-17,19-30,33-62 Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Yoh. 8:1-11.
“Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
[YOH 8: 11]
Tidak ada orang yang benar-benar jahat. Jauh di dalam hati kita hidup kerinduan untuk menjadi baik. Sayangnya, kerinduan itu sering dibungkam oleh kekecewaan dan kepahitan. Ya, betapa sering kita tergoda untuk membangun tembok mengelilingi hati kita seperti dinding anti peluru! Walau demikian, kerinduan untuk menjadi baik tetap ada di sana! Seperti tunas yang ingin tumbuh, kerinduan hati kita hanya membutuhkan sinar matahari untuk berkembang. Perempuan yang kedapatan berzina dalam Injil hari ini, mengalami hal itu. Dia dikelilingi oleh para penuduh yang hanya melihat kesalahannya dan bagaimana dia seharusnya dirajam, sesuai dengan hukum Musa (Imamat 20:10).
Orang-orang Yahudi mencoba untuk menguji Yesus dengan menempatkan kepadanya penghakiman itu: “Apa pendapat-Mu?” Yesus yakin bahwa kerinduan untuk menjadi baik ada di hati perempuan ini. Dia berbelas-kasih padanya, dan belas-kasih-Nya memungkinkannya untuk bertumbuh – untuk mengambil dan menjalani kehidupan baru yang hampir saja disia-siakan! Ada awal yang baru baginya, kali ini ditentukan oleh kejujuran, damai dan integritas.
Kita semua pernah memiliki pengalaman buruk. Kita pernah bersalah, berdosa. Yesus tidak menginginkan kita terjebak di sana. Biarkan sabda-Nya berbicara kepada kita: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”
Di lain pihak, dapatkah kita melihat, sesuatu yang baik yang sedang ingin bertumbuh, dalam diri orang lain, walau dalam diri orang-orang yang tidak kita sukai?
Di sebuah paroki, hiduplah seorang pastor yang baik. Akan tetapi hamba Tuhan yang sangat dikasihi itu memikul beban dosa “rahasia” yang telah dilakukannya bertahun-tahun sebelumnya. Dia telah bertobat tetapi belum ada damai dalam hatinya dan belum merasa bahwa Allah benar-benar mangampuninya.
Di parokinya ada seorang ibu yang saleh dan mengaku bahwa ia mendapat penglihatan di mana ia berbicara dengan Yesus dan Dia berbicara dengannya. Akan tetapi, pastor itu merasa skeptis. Untuk mengujinya, ia berkata: “Lain kali ketika kamu berbicara dengan Yesus, saya ingin kamu bertanya kepada-Nya dosa apa yang dilakukan oleh pastormu ini ketika dia masih frater di seminari.” Ibu itu setuju. Beberapa hari kemudian, ketika bertemu kembali dengan ibu itu, pastor bertanya: “Nah, apakah Yeus mengunjungimu?” “Ya, Dia datang,” jawab ibu itu. “Dan apakah kamu bertanya kepada-Nya dosa apa yang saya lakukan waktu saya masih frater di seminari?” “Ya,” jawabnya. “Nah, apa yang Yesus katakan?” “Dia bilang: ‘Aku lupa’.”
Tuhan, semoga aku memiliki pikiran dan hati yang terbuka untuk menerima bahwa orang lain juga berdosa seperti saya. Biarlah belas kasih-Mu terpatri di dalam hatiku.
Amin.
