Sabda Hidup
Minggu, 25 Mei 2025, Minggu Paskah VI Bacaan: Kis. 15:1-2,22-29; Mzm. 67:2-3,5,6,8; Why. 21:10-14.22-23; Yoh. 14:23-29.
“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu,” (Yoh 14: 26).
Sejago-jagonya Jannik Sinner main tenis dan sekarang sedang menduduki peringkat pertama Asosiasi Tenis Profesional (ATP), ia tetap membutuhkan seorang pelatih. Sejago-jagonya Scheffle Scottie main golf, ia tetap membutuhkan seorang pelatih. Demikian juga kita dalam hidup. Kita ini ringkih, mudah jatuh dalam kesalahan. Mudah jatuh dalam dosa. Tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.
Akan tetapi jangan khawatir. “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu,” sabda Tuhan kepada kita. Ia pun akan minta kepada Bapa untuk memberikan seorang Penolong, yaitu Roh Kebenaran. “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus ole Bapak dalam nama-Ku, dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu.” Seorang Penghibur, Penolong, dalam bahasa Yunani παράκλητος, Paráklētos.
Apa atau siapa Parakletos? Banyak kata dipakai untuk menterjemahkan kata itu: Penghibur, Penolong, Penasihat, Advokat. Secara harafiah Paráklētos adalah “orang yang dipanggil untuk membela seseorang di hadapan mahkamah”, seorang “asisten hukum”, seorang “asisten”, atau seorang “perantara” atau “kuasa hukum”. Tetapi Parakletos lebih dari sekadar “kuasa hukum”. Mungkin kata yang hampir mencakup maknanya adalah “coach”. Seorang coach atau pelatih selalu berada di sisi kita, mengajari, melatih, mengoreksi kita ketika kita berbuat salah, mendorong, memotivasi kita ketika kita menjadi loyo, menantang dan menginspirasi kita untuk melakukan yang terbaik semaksimal mungkin, mempertahankan dan berjuang untuk kita ketika pihak-pihak lain memperlakukan kita secara tidak adil. Pendek kata, Paráklētos berarti bagi kita seperti Yesus berarti bagi para murid. Kita semua membutuhkan sang Penolong Ilahi, Roh Kudus, Paráklētos, “Life Coach” kita yang selalu berada di sisi kita.
Bagaimana kita dapat menerima Roh Penolong yang sangat penting ini? Dengan berusaha hidup menurut hukum Kristus yaitu mengasihi Allah dan sesama. “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yoh 14: 15 – 16a). Dalam bacaan pertama hari ini kita mendengar bagaimana para murid, Gereja Perdana, mengatasi konflik dan perselisihan yang timbul di tengah-tengah jemaat dengan mengadakan discernment bersama. Semangat sinodalitas, usaha menghidupi hukum kasih dinyatakan dalam konsili pertama di Yerusalem, ketika terjadi perselisihan tentang perlu tidaknya jemaat menghidupi adat-istiadat Yahudi. Dalam terang hukum kasih, dan atas bimbingan Roh Kudus, mereka mengambil keputusan bersama dan mengutus orang-orang terpilih untuk membawa pesan para Rasul kepada jemaat-jemaat di pelbagai tempat.
Kita sangat membutuhkan Paráklētos, Roh Kudus, sama seperti para murid juga membutuhkan-Nya lebih dari 2000 tahun yang lalu. Mari membuka Hati kita untuk tuntunan-Nya.
Ya Roh Kudus, penuntun dan penghibur, penasihat dan penolong kami, bantulah kami menuruti Sabda Yesus. Bantulah kami membangun persaudaraan sejati, berjalan bersama dengan penuh pengharapan. Amin.
