Remah Harian

SALIB UNTUK PERUBAHAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu 14 Desember 2024, Peringatan Wajib St. Yohanes dari Salib
Bacaan: Sir. 48:1-4,9-11Mzm. 80:2ac,3b,15-16,18-19Mat. 17:10-13

Percakapan Yesus dengan murid-murid-Nya dalam perikop Injil hari ini terjadi setelah para murid menyaksikan Yesus berubah rupa di atas gunung. Setelah peristiwa itu para murid bergumul dengan sebuah pertanyaan yang mendalam: jika Yesus adalah Mesias, mengapa Elia tidak datang kembali seperti yang dinubuatkan? Yesus menyatakan bahwa Elia telah datang dalam diri Yohanes Pembaptis, yang misinya ditolak dan nyawanya diambil. Seperti Elia, Yohanes mempersiapkan jalan bagi Tuhan, menyerukan pertobatan dan pemulihan komunitas – sebuah misi yang begitu radikal sehingga mengancam struktur kekuasaan yang ada.

Kehidupan dan misi Santo Yohanes dari Salib yang kita peringati hari ini sangat sesuai dengan refleksi Injil ini. Yohanes menghadapi perlawanan sengit ketika ia berusaha mereformasi Ordo Karmelit. Seperti Yohanes Pembaptis, seruannya untuk kembali ke kemurnian spiritual dan keintiman dengan Tuhan dipandang sebagai ancaman terhadap norma-norma yang nyaman di zamannya. 

Yesus melanjutkan misi Yohanes Pembaptis, menunjukkan melalui kehidupan-Nya bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama tidak dapat dipisahkan. Ajaran-Nya menantang sistem penindasan dan menyerukan cara hidup yang baru, yang berakar pada persaudaraan dan saling peduli. Namun, misi ini berbahaya, karena berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang mengambil keuntungan dari perpecahan dan eksploitasi. Seperti Yohanes, Yesus ditolak dan akhirnya dihukum mati.

Santo Yohanes dari Salib mengalami penderitaan yang luar biasa untuk tujuan ini, termasuk dipenjara dan dianiaya oleh komunitasnya sendiri. Namun, ia tetap tabah, menerangi jalan perubahan melalui tulisan-tulisannya.

Yohanes Pembaptis dan Santo Yohanes dari Salib menunjukkan bahwa pembaharuan sering kali datang melalui pengorbanan. Keberanian kenabian mereka memanggil kita untuk menghadapi kekuatan-kekuatan yang memecah belah kita – apakah itu struktur ketidakadilan, konsumerisme, atau rasa puas diri – dan untuk membangun kembali sebuah komunitas yang berakar pada cinta dan solidaritas.

Terinspirasi oleh teladan mereka, kita dipanggil untuk menerima tantangan Injil untuk hidup sebagai agen pembaharuan, percaya bahwa melalui penderitaan dan ketekunan, karya transformatif Allah di dalam diri kita akan menghasilkan buah bagi kerajaan-Nya.

Ya Tuhan, semoga kami berani memikul salib seperti Engkau, seperti St. Yohanes dari Salib, untuk mengusahakan perubahan yang perlu dalam masyarakat kami. Amin.

Author

Write A Comment