Sabda Hidup
Jumat, 3 Januari 2025, Jumat Hari Biasa Masa Natal
Bacaan: 1Yoh. 2:29-3:6; Mzm. 98:1,3cd-4,5-6; Yoh. 1:29-34.
Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (Yoh 1: 29 – 30)
Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus sebagai “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Gelar ini mengungkapkan identitas ganda Yesus sebagai Tuhan dan Hamba.
Mari kita ingat dua gambaran atau kiasan Kitab Suci yang tidak asing lagi bagi kita, yang memiliki hubungan yang jelas dengan Kristus. Yang pertama berasal dari Perjanjian Lama, dari kitab Yesaya, yang berbicara tentang hamba yang menderita yang “digiring seperti anak domba ke pembantaian.” Marilah kita dengan penuh doa merenungkan hamba yang menderita dari nubuat Yesaya itu sebagai Kristus yang menderita bagi kita orang-orang berdosa, mencegah kehancuran kita dengan kematian-Nya sendiri “di pembantaian.”
Gambaran kedua berasal dari kiasan Perjanjian Lama yang lain: Kristus sebagai Anak Domba Paskah yang menyelamatkan umat-Nya dari murka Yahweh yang membinasakan. Dalam Keluaran, darah anak domba Paskah yang dioleskan ke pintu-pintu rumah orang Ibrani (merupakan tanda khusus bagi malaikat maut untuk menyelamatkan para penghuni rumah orang Ibrani yang telah ditandai. Darah anak domba membebaskan bangsa Israel dari kematian dan perbudakan. Di dalam Yesus, simbolisme ini digenapi: darah-Nya menjadi sumber keselamatan bagi seluruh umat manusia. Yesus, Anak Allah, merendahkan diri-Nya untuk berdiri di antara orang-orang berdosa. Dia mewujudkan kasih yang sempurna melalui pengorbanan diri-Nya, membebaskan kita dari dosa dan memanggil kita kepada kehidupan yang baru. Di tengah pergumulan kita, kebenaran ini mengingatkan kita bahwa Yesus berjalan bersama kita, bukan sebagai Tuhan yang jauh, tetapi sebagai Juruselamat, Saudara, dan Teman kita.
Yesus datang untuk membawa terang dan keselamatan kepada dunia yang dibayangi oleh dosa dan keputusasaan. Misi-Nya tidak terbatas pada zaman-Nya; misi-Nya terus berlanjut sampai sekarang melalui para murid-Nya, melalui kita. Sebagai umat Katolik yang bergulat dengan godaan dan tantangan kehidupan modern, kita diundang untuk menemukan kembali Yesus dan menerima misi-Nya sebagai misi kita. Mengikut Yesus berarti membagikan terang-Nya di rumah, tempat kerja, dan komunitas kita. Tantangan yang kita hadapi – ketidakpedulian, perpecahan, atau budaya yang menentang iman – adalah kesempatan untuk menjadi saksi kasih-Nya.
Pemuridan memanggil kita untuk memperdalam hubungan kita dengan Yesus, sementara kerasulan menantang kita untuk membagikan pesan-Nya. Dengan menjalani hidup yang rendah hati, melayani, dan mengasihi, kita dapat menginspirasi orang lain untuk berjumpa dengan Kristus. Mari kita berdoa untuk keberanian dan kasih karunia untuk memenuhi misi ini, membangun Kerajaan Allah di dunia yang merindukan pengharapan dan kebenaran.
Ya Allah, ciptakanlah kami kembali menjadi baru setiap hari dalam gambar Putera-Mu. Semoga kami bertumbuh semakin serupa dengan Yesus Putera-Mu. Amin.
