Remah Harian

RISK TAKER

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 25 Maret 2025, Hari Raya Kabar Sukacita
Bacaan: Yes. 7:10-14; 8:10; Mzm. 40:7-8a,8b-9,10,11; Ibr. 10:4-10Luk. 1:26-38.

“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

(LUK 1: 38).

Anak perempuan itu masih remaja. Mungkin sudah punya rencana-rencana sendiri untuk masa depannya. Ia sudah bertunangan. Lebih tepatnya mungkin dijodohkan. Tiba-tiba dalam keheningan doanya, ia mendengar salam: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Sebuah salam yang penuh makna, salam yang penuh misteri. Dalam kisah-kisah Kitab Suci, ketika seseorang mengalami peristiwa seperti itu, biasanya akan terjadi sesuatu dengan hidupnya, ia dipanggil untuk suatu tugas tertentu, tugas berat. Sangatlah beralasan bahwa Maria takut. Bukan cuma takut, tetapi juga bingung, tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Itulah sebabnya malaikat Gabriel berkata: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.” Lebih mengejutkan lagi Malaikat itu berkata: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.” Akan tetapi dalam kegelapan lorong perjalanan iman itu Maria menjawab “Ya”.

Jawaban Maria mengubah sejarah manusia. “Paus Benediktus XVI pernah berkata: “Saya ingin membangkitkan kembali keberanian untuk membuat keputusan-keputusan definitif: jawaban yang mengijinkan kita untuk bertumbuh, bergerak maju dan mencapai sesuatu yang besar dalam hidup. Suatu jawaban yang tidak menghilangkan kebebasan tetapi menunjukkan jalan yang benar untuk kita. Lompatan penuh risiko, menuju pada jawaban definitif dan memeluk kehidupan yang penuh: inilah sesuatu yang dengan gembira ingin saya bagikan dengan mereka.” Maria adalah sebuah teladan!

St. Yusup pun dilibatkan dalam rencana Tuhan: ia harus menerima dan mengambil Maria sebagai isterinya dan manamai anaknya Jesua, Allah menyelamatkan. Ia harus menerima Maria sebagai isterinya dan menamai anak itu: Jesus, “Tuhan menyelamatkan” (Mat 1: 20 dst). Sebuah teladan yang lain dalam mengambil risiko.

Setiap jawaban atas panggilan untuk maju dan membuat perubahan baik untuk diri sendiri maupun kehidupan bersama selalu penuh risiko. Tetapi tanpa keberanian mengambil risiko itu perubahan tidak terjadi. Langkah maju tidak akan terwujud tanpa kesanggupan yang penuh risiko itu.

Tanggapan Maria, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (ay. 38b), tidak hanya menunjukkan kepasrahan, tetapi juga kerelaan untuk mengambil risiko namun dengan sukacita. Karena ingin melihat rencana Allah terwujud, Maria mengesampingkan impian-impian pribadinya dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya ke dalam tangan Allah.

Ke mana pun Allah masuk, sukacita mengikutinya. Kabar Sukacita dimulai dengan undangan malaikat untuk ‘bersukacita’ dan berpuncak pada penyerahan diri Maria yang penuh sukacita. Allah rindu untuk tinggal di antara kita dan menginginkan kebahagiaan kita. Teladan Maria adalah model iman dan ketaatan yang sempurna.

Dalam perjalanan kita menapaki masa Prapaskah, semoga fiat Maria menginspirasi kita untuk berserah kepada kehendak Tuhan dengan sukacita dan kepercayaan. Marilah kita membuka hati kita untuk rencana-Nya, mengetahui bahwa kehadiran-Nya selalu membawa kedamaian dan kepenuhan. Semoga kita berani mengambil risiko, ketika Tuhan memanggil kita untuk bertumbuh dan berubah.

Tuhan, tuntunlah aku untuk terbuka pada rencanamu dengan sukacita, meski penuh risiko. Amin.

Author

Write A Comment