Remah Harian

POHON DIKENAL DARI BUAHNYA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 25 Juni 2025, Rabu Pekan Biasa XII
Bacaan: Kej. 15:1-12,17-18Mzm. 105:1-2,3-4,6-7,8-9Mat. 7:15-20

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?”
(Mat 7: 15 – 16)

Kita mendekati rekomendasi akhir dari khotbah di Bukit. Tantangan terberat Gereja purba mungkin tidak berasal dari penganiayaan para kaisar atau penolakan para pemimpin Yahudi, melainkan dari perpecahan internal. Tidak semua orang yang mengaku sebagai Kristen mengajarkan Injil yang sejati. Kehadiran dan ajaran para pemimpin ini mendorong Matius untuk membahas masalah nabi-nabi palsu dalam komunitas melalui kata-kata Yesus yang mengingatkan kita untuk melihat buah-buahnya — karena pohon yang baik menghasilkan buah yang baik (Mat 7:17). Namun sabda Yesus bukan hanya mengundang kita untuk waspada, tetapi juga untuk hidup dalam kebenaran dan keaslian.

Ada nabi-nabi palsu di dunia kita — orang-orang yang mungkin berbicara dengan baik, menawarkan solusi cepat, dan bahkan tampak seperti teman, tetapi kata-kata dan tindakan mereka tidak membawa kita kepada kebebasan sejati. Seringkali, mereka hanya mengatakan apa yang kita inginkan untuk didengar, bukan apa yang membantu kita bertumbuh. Di setiap lingkungan — bahkan dalam keluarga, paroki, persahabatan atau pertemanan, kita harus bersikap bijaksana. Tak boleh kita membiarkan seseorang mengendalikan hidup kita sedemikian rupa sehingga kita kehilangan pertimbangan dan pendapat kita sendiri, jalan kita sendiri.

Yesus meminta kita untuk melihat buah-buahnya. Apa tanda-tanda cinta dan iman yang sejati? Mereka terlihat dalam kesabaran, pelayanan, kejujuran, dan damai. Kita mengenal seseorang melalui tindakan mereka seiring waktu, bukan hanya melalui kata-kata mereka. Jadi, hendaklah kita tidak terburu-buru. Jadilah bijak, jujurlah dengan apa yang anda lihat.

Ada juga saat-saat ketika kita harus memotong apa yang tidak lagi berbuah, baik hubungan yang menghambat kita, maupun kebiasaan yang merugikan pertumbuhan kita. Allah ingin kita berkembang, bukan terjebak dalam ketakutan atau kemalasan.

Dan akhirnya, ingatlah: kita masing-masing dipanggil untuk menjadi pohon yang baik—untuk menghasilkan buah pada waktunya, dengan cinta dan kesabaran. Semuanya itu tidak terjadi begitu saja, perlu proses. Tetapi jika hidup berakar dalam doa, dalam Injil, dan dalam pelayanan yang murah hati, hidup kita akan berbicara dengan jelas.

Tuhan tolonglah kami untuk hidup jujur, sederhana dan berintegritas, sehingga melalui buah-buah hidup kami, semakin banyak orang mengenal kebaikan-Mu. Amin.

Author

Write A Comment