Sabda Hidup
Minggu, 19 Januari 2025, Minggu Biasa II Tahun C
Bacaan: Yes. 62:1-5; Mzm. 96:1-2a,2b-3,7-8a,9-10ac; 1Kor. 12:4-11; Yoh. 2:1-11
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” [Yoh 2: 3 – 5]
Sebagai Peziarah Harapan di Tahun Yubileum ini, kita memandang kepada Maria, Bunda yang penuh perhatian di Kana, yang menuntun kita untuk mengenali tanda-tanda kasih Allah yang tak terbatas. Injil hari ini menceritakan tanda pertama Yesus pada pesta perkawinan di Kana, di mana, dengan perantaraan Maria, Dia mengubah air menjadi anggur, memulihkan sukacita pada perayaan yang dapat menjadi masalah. Gerakan yang bijaksana ini mengungkapkan kasih Allah yang dekat, lembut, dan penuh belas kasihan yang bekerja secara diam-diam di saat-saat biasa dalam kehidupan.
Peran Maria sangat penting. Dengan intuisi keibuannya, ia melihat kebutuhan sebelum orang lain melihatnya dan dengan lembut membawanya kepada Yesus. Perintahnya yang sederhana, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, mengundang kita untuk percaya kepada kuasa Yesus untuk mengubah pergumulan kita menjadi berkat. Cara yang tenang dari mukjizat ini mengingatkan kita tentang bagaimana Tuhan sering bekerja-dengan cara yang tersembunyi dan tak terduga, menunjukkan kepedulian-Nya melalui tanda-tanda yang halus dan bukan dengan pertunjukan yang megah.
Bagi kita sebagai peziarah, tanda di Kana ini berbicara tentang pengharapan. Tanda ini meyakinkan kita bahwa Allah menginginkan kebahagiaan kita dan memberikan “anggur terbaik” bahkan ketika kehidupan tampak suram. Pengantaraan Maria mendorong kita untuk tetap memperhatikan tanda-tanda kehadiran Allah – saat-saat ketika kasih-Nya mengangkat kita, menyembuhkan kita, atau memenuhi kita dengan damai sejahtera.
Dalam perjalanan iman kita, marilah kita meluangkan waktu untuk merenungkan tanda-tanda ini dalam hidup kita. Ingatlah saat-saat ketika kelembutan Tuhan paling nyata, ketika kepekaan keibuan Maria membimbing kita, atau ketika kasih karunia-Nya mengubah momen-momen biasa menjadi perjumpaan yang luar biasa. Marilah kita menghargai pengalaman-pengalaman ini, karena mereka adalah penampakan sekilas dari Kerajaan-Nya.
Semoga Maria, Bunda Para Peziarah, menginspirasi kita untuk berjalan dengan penuh keyakinan, siap untuk menyaksikan dan berbagi sukacita kasih Allah dengan orang lain saat kita melakukan perjalanan bersama dalam pengharapan dan iman.
Tuhan, curahkanlah anggur persatuan dan persahabatan kepada komunitas dan keluarga kami, agar kami dapat menjadi satu di dalam Engkau dan bersama-sama menjadi tubuh-Mu yang melayani satu sama lain dengan semangat berbagi dan peduli satu sama lain. Amin.
