Sabda Hidup
Rabu, 12 Februari 2025, Rabu Pekan Biasa V
Bacaan: Kej. 2:4b-9,15-17; Mzm. 104:1-2a,27-28,29bc-30; Mrk. 7:14-23.
Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” [Mrk 7: 20 – 23]
Perjalanan iman selalu dimulai dengan sebuah perubahan – bukan perubahan dari luar, tetapi dari dalam. Perubahan yang sejati bukanlah tentang memperbaiki atau mengubah dunia di sekitar kita, tetapi mengizinkan Tuhan untuk bekerja di kedalaman hati kita.
Kita sering kali berfokus pada bagian luar – orang-orang, keadaan, dan situasi di sekitar kita. Ketika hidup tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita, kita tergoda untuk menyalahkan orang lain, menjadikan mereka sebagai kambing hitam atas rasa frustrasi dan kenegatifan kita. Pendekatan ini berbahaya dan tidak adil. Pendekatan ini dapat membutakan kita dari kebutuhan kita sendiri akan perubahan dan berisiko merugikan orang-orang di sekitar kita. Luangkan waktu sejenak untuk merenung: Apakah saya cenderung melampiaskan pergumulan batin saya kepada orang lain? Waspadai kecenderungan ini dan mohonlah anugerah Tuhan untuk menghadapi apa yang ada di dalam diri sendiri.
Transformasi yang sejati terjadi di dalam batin. Di sinilah Yesus rindu untuk tinggal, bukan untuk menghukum kita, tetapi untuk menerangi kita dengan kasih dan kebenaran-Nya. Seringkali, kita menilai orang lain melalui lensa kelemahan kita sendiri, gagal melihat kebaikan mereka. Alih-alih meluangkan waktu untuk mengenal orang lain secara mendalam, kita justru mengandalkan kesan yang dangkal. Betapa pentingnya memenuhi hati kita dengan Tuhan! Kasih-Nya memberdayakan kita untuk hidup dengan belas kasih, objektivitas, dan kekuatan. Ketika kita menemukan Tuhan di dalam diri kita, kita dapat membagikan-Nya kepada hati yang kosong atau terbebani. Ingatlah, apapun yang terjadi, Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda – Dia mengasihi Anda tanpa batas!
Akhirnya, ada hal-hal dalam hidup yang tidak akan berubah. Inilah salib yang harus kita pikul dan kita belajar untuk bertahan. Marilah kita berdoa agar kita diberi kesabaran untuk menghadapi tantangan-tantangan ini dan bertumbuh melaluinya.
Marilah kita memohon kepada Bunda Maria untuk membantu kita berubah dari dalam.
Bunda Maria, ajarilah kami kesabaran dan bimbinglah kami untuk menanggung tantangan hidup dengan penuh rahmat. Amin.
