Remah Harian

PENGURUS YANG SETIA DAN BIJAKSANA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 20 Oktober 2021, Rabu Pekan Biasa XXIX
Bacaan: Rm. 6:12-18; Mzm. 124:1-3,4-6,7-8; Luk. 12:39-48.

“Jadi, siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk memberikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.”

(Luk 12: 42 – 43)

Seperti kemarin, Injil hari ini mengajak kita untuk berjaga dan siap sedia. Yesus bersabda: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan,” (Luk 12: 40).

Seorang murid harus siap sedia menantikan kedatangan Tuhan dan kerajaan-Nya. Injil menerangkan hal ini dengan perumpamaan para hamba yang dipercayakan untuk menjadi kepala atas semua hambanya. Di bagian pertama, seorang hamba melaksanakan tugasnya dengan setia dan menerima ganjarannya, menjadi pengawas segala miliknya. Di bagian yang kedua, hamba yang diceriterakan menyalahgunakan kuasanya dan menganiaya hamba-hamba yang lain. Bukankah situasi seperti ini juga sering terjadi di masa kini? Ada begitu banyak ketidakadilan, kekerasan, kekejaman setiap hari yang terjadi karena ada orang yang seakan-akan berkuasa atas hidup orang lain. Tuan kita hanya satu, yang tidak suka disebut “tuan” tetapi “BAPA”. Kita semua adalah hamba, para pendosa. Walau demikian kita adalah anak-anak-Nya. Dialah BAPA kita bersama.

Paus Fransiskus pernah mengatakan bahwa kesempatan untuk menjadi hamba yang dipercaya menjadi pengawas segala milik Rumah Allah tidak memberi kita kuasa atas hidup penghuni yang lain; malahan, kepercayaan itu memberi kita tanggungjawab tambahan untuk membuat “rumah kita bersama” menjadi lebih adil dan lebih layak huni.

Ketika Lukas menulis Injil, harapan bahwa kedatangan Yesus yang kedua segera terjadi semakin lama semakin memudar. Orang-orang kristen perdana percaya bahwa Yesus akan segera datang kembali, tetapi seiring jalannya waktu, tak ada tanda-tanda akan kedatangan kembali Tuhan Yesus. Orang-orang kristen itu tergoda untuk kehilangan kewaspadaan dan mulai menyerah. Melalui perikope ini, penginjil berusaha mengingatkan akan adanya bahaya kelesuan dan agar orang-orang beriman tetap berperilaku baik.

Dua hal dapat kita renungkan. Pertama, kita semua bukanlah pemilik atas semua yang diberikan kepada kita. Kita hanya hamba yang dipercaya. Tuhan telah memberikan keistimewaan kepada kita untuk menjadi Anak-anak-Nya. Itu adalah anugerah, yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma. Kita tidak dapat menuntut Tuhan. Kedua, sebagai anak-anak-Nya, Allah telah mempercayakan kepada kita saudara-saudari kita – khususnya mereka yang berjuang untuk hidup mereka – untuk kita perhatikan. Mengabaikan mereka, yang sering nampak dalam kehidupan kita, tak akan lepas dari murka Allah. Tiadanya empati dan membiarkan orang miskin menderita serta menolak untuk memperhatikan mereka adalah dosa – dosa kelalaian.

Ingatlah bahwa “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Luk 12: 48).

Author

Write A Comment