Sabda Hidup
Senin, 23 September 2024, Peringatan St. Pius dari Pietrelcina (Padre Pio)
Bacaan: Ams 3:27-34; Mzm 15:2-3ab.3cd-4ab.5; Luk 8:16-18
Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya.” [Luk 8: 16]
Apakah yang dapat digambarkan oleh cahaya dan pelita tentang kerajaan Allah? Pelita memberi terang yang memungkinkan orang untuk tidak tersandung dalam kegelapan. Kasih karunia Allah tidak hanya menerangi kegelapan dalam hidup kita, tetapi juga memenuhi kita dengan terang rohani, sukacita, dan damai sejahtera. Yesus menggunakan pelita untuk menggambarkan bagaimana murid-murid-Nya harus hidup dalam terang kebenaran dan kasih-Nya. Sama seperti cahaya alami yang menerangi kegelapan dan memungkinkan seseorang untuk melihat secara visual, demikian pula terang Kristus bersinar di dalam hati orang-orang percaya dan memampukan kita untuk melihat realitas surgawi kerajaan Allah. Sesungguhnya, misi kita adalah menjadi pembawa terang Kristus sehingga orang lain dapat melihat kebenaran Injil dan dibebaskan dari kebutaan dosa dan penyesatan.
Yesus mengingatkan kita bahwa tidak ada yang dapat disembunyikan atau dirahasiakan. Kita mungkin mencoba menyembunyikan sesuatu dari orang lain, dari diri kita sendiri, dan dari Tuhan. Kita mungkin tergoda untuk mengabaikan dampak dari cara hidup kita yang penuh dosa dan kebiasaan buruk, bahkan ketika kita sepenuhnya sadar akan konsekuensi-konsekuensi tersebut, dan menyembunyikannya dari orang lain dan bahkan dari Tuhan. Namun demikian, segala sesuatu diketahui oleh Allah, yang melihat semuanya.
Esensi dari iman kita harus terpancar melalui tindakan-tindakan kita. Santo Fransiskus berpesan kepada murid-muridnya, “Wartakanlah Injil, gunakan kata-kata jika diperlukan.” Artinya, pertama-tama wartakanlah Injil dengan perbuatan dan perilaku kita. Ketika kita sungguh-sungguh mengikuti Injil, cahaya Injil secara alami akan tercermin dalam perilaku kita. Kata-kata meneguhkan kesaksian hidup. Dengan menghidupi Firman Tuhan, kita dapat memberikan kesaksian yang paling kuat.
Kita telah menerima terang iman ketika kita menjadi orang Kristen. Lilin menyala yang diberikan pada saat kita dibaptis melambangkan hal itu. Di sinilah perumpamaan hari ini berbicara kepada kita. Apa yang kita lakukan dengan terang iman kita? Banyak dari kita menyembunyikannya, sebab membiarkan terang iman bersinar melalui hidup kita, merupakan tanggung jawab besar. Dalam masyarakat modern saat ini, menunjukkan iman dalam kehidupan sehari-hari mungkin akan mengundang ejekan dan cemoohan. Itulah yang mendorong banyak orang berkata: “Iman saya adalah urusan pribadi.”
Apakah iman kita hanya urusan pribadi? BUKAN! Iman bukan urusan pribadi saja!” Apa yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini dengan jelas menunjukkan hal itu. “Hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga,” (Mat 5: 16).
Dalam salah satu kotbahnya pada tahun 2016 Paus Fransiskus berkata:
If you do not want to be Christians in name only, you have to carry out your daily commitment to “preserve, and not hide” the light that was given to you at baptism. This is a commitment that takes place in “everyday” life, taking care not to give in to certain temptations in which one tends to fall.”
Saya terjemahkan dengan bebas demikian: “Jika anda tidak ingin menjadi orang Kristen KTP, anda harus melaksanakan komitmen harian anda untuk menjaga terang yang telah diberikan kepada anda saat dibaptis dan bukan menyembunyikannya. Ini adalah komitmen yang harus dipegang dalam hidup “setiap hari”, memelihara komitmen tersebut dan tidak mudah menyerah pada godaan di mana kita mudah jatuh.”
Tuhan, bimbinglah aku dengan terang kebenaran-Mu yang menyelamatkan. Penuhi hati dan pikiranku dengan terang dan kebenaran-Mu dan bebaskanlah aku dari kebutaan dosa dan tipu daya.”
