Sabda Hidup
Sabtu, 29 Maret 2025, Sabtu Pekan Prapaskah III
Bacaan: Hos. 6:1-6; Mzm. 51:3-4,18-19,20-21b; Luk. 18:9-14.
“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”
(LUK 18: 14)
Injil hari ini menyajikan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai, yang menggambarkan dua sikap yang sangat kontras dalam doa. Orang Farisi, yang yakin akan kebenarannya, meninggikan diri dengan merapalkan daftar perbuatan-perbuatan baiknya, mencari pembenaran dan menempatkan dirinya di atas orang lain. Sebaliknya, si pemungut cukai dengan rendah hati mengakui dosa-dosanya dan memohon belas kasihan Allah.
Doa melibatkan dua gerakan: naik dan turun. Naik berarti mengangkat hati kita kepada Allah, melepaskan diri kita dari sikap mementingkan diri sendiri dan gangguan-gangguan duniawi. Ini adalah keinginan untuk mencari Tuhan dan mempersembahkan hidup kita di hadapan-Nya. Namun, naik kepada Tuhan hanya mungkin terjadi ketika kita pertama-tama turun ke dalam lubuk hati kita. Turun ke dalam hati menuntut ketulusan dan kerendahan hati – pengakuan yang jujur akan kelemahan dan kebutuhan kita akan belas kasihan Allah.
Pemungut cukai mencontohkan kerendahan hati ini, berdiri di kejauhan, merasa tak pantas namun jujur di hadapan Allah. Dalam kerendahan hatinya, ia membuka hatinya kepada kasih Allah yang menyembuhkan dan mengubahkan. Sementara itu, kesombongan orang Farisi membutakannya, membuat doanya berkisar pada dirinya sendiri dan bukan pada Allah. Kesombongan rohani membuat kita menghakimi orang lain dan memuliakan diri kita sendiri, menjauhkan kita dari kasih karunia Allah.
Perumpamaan ini mengundang kita untuk memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita mencari pujian atas perbuatan baik kita, atau apakah kita datang ke hadapan Allah dengan kerendahan hati, percaya pada belas kasihan-Nya? Doa yang benar dimulai dengan hati yang rendah hati, mengakui dosa-dosa kita dan berserah kepada kasih Allah. Semakin kita merendahkan diri, semakin Allah mengangkat kita.
Marilah kita teladani Bunda Maria, hamba Tuhan yang rendah hati, yang mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan meninggikan orang-orang yang rendah hati dan memenuhi hati orang-orang yang percaya kepada-Nya. Semoga kita selalu menghampiri Tuhan dengan kerendahan hati, karena kita tahu bahwa belas kasihan-Nya saja yang dapat memulihkan dan mengubah kita.
Tuhan, jadikanlah aku hamba-Mu yang rendah hati dan tulus. Amin.
