Sabda Hidup
Jumat, 20 September 2024, Peringatan St. Andreas Kim Taegon dan St. Paulus Chong Hasang
Bacaan: 1Kor 15:12-20; Mzm 17:1.6-7.8b.15; Luk 8:1-3
“Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka,” (Luk 8: 1 – 3).
Injil hari ini membahas tentang sekelompok kecil perempuan yang mendukung Yesus dengan menggunakan sumber daya pribadi mereka. Memberikan bantuan kepada seorang Rabi dianggap sebagai tindakan yang baik, tetapi perempuan-perempuan ini melampaui tradisi dengan melakukan perjalanan bersama Sang Guru dan para murid sepanjang perjalanan misi mereka. Sangat tidak lazim bagi perempuan untuk menemani seorang Rabi, karena para Rabi biasanya tidak berinteraksi dengan perempuan di depan umum dan bahkan para Rabi yang sangat ketat menjaga tradisi tidak berbicara dengan istri mereka sendiri.
Perempuan-perempuan ini tidak hanya menjadi pengikut pasif; mereka adalah bagian integral dari misi, memberikan dukungan material dan spiritual. Hal ini menggarisbawahi pengakuan awal atas kontribusi substansial perempuan dalam penyebaran Injil.
Para perempuan tetap setia kepada Yesus sampai akhir hayat-Nya, berdiri di dekat-Nya di kaki salib (23:49); pada saat penguburan-Nya (23:55 dst.) dan pada akhirnya menjadi saksi-saksi Kebangkitan (24:1-11). Injil Lukas disebut sebagai “Injil para perempuan”, karena menyoroti peran penting mereka. Kisah Kelahiran Yesus, misalnya, disajikan dari sudut pandang Maria. Elisabet, Anna, janda dari Nain, perempuan lumpuh, dan perempuan yang meminyaki kaki Yesus di rumah Simon orang Farisi, semuanya diperkenalkan dalam Lukas. Selain itu, Lukas juga memberikan gambaran yang menarik tentang Maria, Marta, dan Maria Magdalena.
Paus Fransiskus, dalam sebuah konferensi internasional tentang perempuan dalam Gereja pada kesempatan Hari Perempuan Internasional tahun ini, menyerukan kepada Gereja untuk selalu mengingat bahwa Gereja adalah “seorang” perempuan: seorang anak perempuan, pengantin perempuan, dan ibu. Kita menyebutnya “Bunda Gereja”. Metafora ini menggarisbawahi peran pengasuhan dan pemberi kehidupan yang dilakukan oleh para perempuan di dalam Gereja.
Di dalam Gereja, tidak ada ruang untuk diskriminasi berdasarkan jenis kelamin, orientasi seksual, etnis, atau kebangsaan. Marilah kita memperlakukan satu sama lain sebagai mitra, bukan sebagai atasan atau tuan dan menentang penindasan terhadap sesama.
Tuhan, beri kami rahmat untuk menghormati dan mencintai semua orang, yang Kaucipta dalam cintaMu. Teguhkanlah persaudaraan dan kemitraan kami dalam mewartakan Injil-Mu. Amin.
