Sabda Hidup
Rabu, 5 Februari 2025, Peringatan Wajib St. Agatha
Bacaan: Ibr. 12: 4-7,11-15; Mzm. 103:1-2,13-14,17-18a; Mrk. 6:1-6.
Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Mrk 6: 3c – 4).
Bulan Februari 2019 yang lalu, seorang putra Marind ditahbiskan menjadi seorang imam Misionaris Hati Kudus. Dialah seorang MSC Marind pertama! Sebuah penantian yang lama, lebih dari 100 tahun! Maka dalam perayaan Misa Pertama di kampung, ribuan orang, tua-muda, berduyun-duyun ke kampungnya. Bahkan begitu banyak yang datang dari Merauke. Jalan rusak dan berlumpur pun tidak menjadi halangan bagi orang-orang yang akan menghadiri misa pertama tersebut. Kampung pun menjadi begitu meriah dengan hiasan janur di sepanjang jalan.
Jika Yesus datang di tengah-tengah kita saat ini, akankah Ia mendapatkan sambutan yang luar biasa? Ketika Ia kembali ke kampung halamannya, dan mengajar di rumah ibadat, Ia ditolak. “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia,” (Mrk 6: 2 – 3).
Mungkin kita tidak terang-terangan menolak-Nya. Tetapi di masa sekarang ini ada begitu banyak bentuk penolakan terhadap Dia. Jika ada undangan misa di lingkungan, berapa orang yang datang? Jika ada undangan pesta dan acara, orang tahan untuk goyang sampai pagi, tetapi untuk misa selama 1 jam saja terasa berat. Pernah suatu kali di salah satu stasi, pada misa hari Minggu gereja yang biasanya penuh terlihat hanya seteengahnya saja terisi, karena pada malam sebelumnya ada pesta. Kita tahan duduk berjam-jam “main” hp, tapi enggan duduk sementara waktu untuk berjumpa dengan Yesus. Lebih mudah kita membagikan tulisan, gambar, video yang berisi hal-hal yang belum tentu benar, lelucon-lelucon, ketimbang membagikan warta kebenaran di media sosial. Berapa lama lagi kita menolak-Nya?
Selain itu, hari ini kita diingatkan bahwa tindakan kenabian tidak selalu diterima. Menjadi nabi bukan untuk mendapat keistimewaan tetapi harus siap untuk ditolak dan dianiaya. Ketika kita konsekuen dengan iman kita, ketika kita memperjuangkan yang bai, adil dan benar, belum tentu diterima.
Bagaimana kita menanggapi penolakan oleh orang lain, terutama oleh orang yang kita anggap sebagai orang-orang dekat? Dengan kisah penolakan-Nya, Yesus mengajar kita untuk tetap fokus pada visi dan misi kita bahkan ketika tantangan dan kesulitan menghampiri kita. Itu termasuk penolakan dari orang-orang yang kita harapkan untuk mendukung kita. Ketika ini terjadi, kita harus bergerak maju untuk melaksanakan kehendak Tuhan bagi kita dan untuk kepentingan orang lain juga. Sama seperti Yesus, marilah kita terus berjuang untuk yang baik, adil dan benar.
Semoga St. Agatha yang kita peringati hari ini, mendorong kita untuk berani berkorban demi iman kita.
Tuhan, semoga kami selalu siap dan terbuka menyambut-Mu dan mendengarkan apa yang Engkau katakan kepada kami, juga ketika perkataan-Mu membuat mengusik kemapanan kami. Amin.
