Sabda Hidup
Senin 10 Februari 2025, Peringatan St. Skolastika
Bacaan: Kej. 1:1-19; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,24,35c; Mrk. 6:53-56
Maka berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tilamnya kepada Yesus, di mana saja kabarnya Ia berada. Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.” (Mrk 6: 55 – 56).
Sebagai Peziarah Harapan di Tahun Yubileum ini, kita diingatkan akan misi kita untuk mengikuti Yesus dengan keberanian, cinta, dan belas kasih.
Yesus tidak tinggal diam di tempat; Dia menyeberang ke sisi lain, selalu bergerak ke arah mereka yang membutuhkan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama. Kita tidak bisa tinggal di tempat yang nyaman dan aman saja; kita harus pergi ke dunia dan menjangkau orang lain. Seperti para murid, kita diutus tanpa penundaan, tanpa alasan. Bahkan jika pintu-pintu dibanting di depan wajah kita, kita harus bertekun, karena banyak jiwa-jiwa yang merindukan pengharapan dan kasih Allah. Iman kita mendorong kita untuk pergi dengan penuh semangat, membawa terang Kristus kepada saudara dan saudari kita.
Dikatakan dalam kutipan pendek itu bahwa orang memohon sekadarn menjamah jumbai jubah-Nya dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. Jamahan mereka timbul dari kebutuhan yang mendalam, kerinduan untuk disembuhkan. Tetapi kesembuhan sejati terjadi ketika kita menyadari bahwa kita dikasihi oleh Tuhan. Yesus menyembuhkan dengan kelembutan, kedekatan, dan kasih sayang. Sebagai pengikut-Nya, kita juga dipanggil untuk menunjukkan kelembutan dan kepedulian kepada mereka yang menderita, dengan sapaan yang meneguhkan, telinga yang mau mendengarkan, atau tindakan apa saja yang menghadirkan kehangatan kasih Kristus.
Akhirnya, kita harus mencari kesembuhan dari Yesus sendiri agar kita dapat membawa kesembuhan bagi orang lain. Ada banyak orang yang membawa luka yang dalam di dalam hati mereka-kesepian, kebencian, keputusasaan. Kemiskinan yang sejati bukan hanya materi, tetapi juga ketiadaan pengharapan dan kasih. Marilah kita mengikuti Yesus, menjadi alat belas kasih-Nya, dan membantu menyelamatkan nyawa dengan membagikan kasih-Nya.
Tuhan, semoga kami mengikuti-Mu dengan keberanian dan cinta. Ajarlah kami untuk melintasi batas-batas, memberikan kesembuhan, dan membawa harapan bagi mereka yang membutuhkan. Amin.
