Sabda Hidup
Jumat, 30 Agustus 2024, Jumat Pekan Biasa XXI
Bacaan: 1Kor. 1:17-25; Mzm. 33:1-2.4-5.10ab.11; Mat 25:1-13.
Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya,” (Mat 25: 13)
Perumpamaan tentang sepuluh gadis ini agak membingungkan kita karena gadis-gadis yang bijaksana pun sebenarnya tidak berjaga-jaga. Kesepuluh gadis itu tertidur. Pengantin pria datang terlambat, tetapi kemudian, dia menutup pintu bagi beberapa orang yang, pada kenyataannya, telah menunggu kedatangannya untuk waktu yang lama!
Perumpamaan ini menggunakan banyak simbolisme. Kesepuluh gadis itu mewakili seluruh bangsa Israel, yang sedang menantikan Mesias. Hanya beberapa dari mereka – gadis-gadis yang bijaksana – yang siap untuk menerima dan masuk ke dalam rumah mempelai pria – Mesias, karena mereka memiliki minyak yang cukup untuk membuat pelita mereka tetap menyala.
Lima puluh tahun setelah masa Yesus, ketika Matius menulis Injilnya, komunitas Kristen mula-mula menantikan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Mereka mengira bahwa kedatangan Yesus yang kedua kalinya akan segera terjadi. Beberapa dekade telah berlalu, tetapi tidak sesuatupun terjadi. Lambat laun, mereka menjadi tidak sabar dan kembali ke gaya hidup dan perilaku mereka sebelumnya.
Matius mengadaptasi perumpamaan ini untuk menekankan pentingnya bejaga-jaga dan selalu siap sedia. Di sini, kesepuluh gadis menunjukkan komunitas Kristen yang menantikan kedatangan Yesus kembali, kedatangan-Nya yang kedua kali (parousia). Hidup berdampingan antara yang baik dan yang buruk adalah tema yang telah dikembangkan Matius: gandum dan rumput liar tumbuh bersama, ikan yang baik dan yang jahat berada dalam satu pukat, orang yang bersih dan yang kotor duduk dalam satu meja, dan dengan demikian, orang yang bijak dan orang yang bodoh juga berdampingan.
Lima gadis yang bijaksana, yang menolak untuk berbagi minyak dengan teman-temannya, memberi pesan yang berharga. Sikap dan perilaku mereka mungkin tampak sangat tidak kristiani. Mengapa mereka tidak berbagi sedikit dari apa yang mereka miliki sehingga semua orang dapat menyalakan pelita mereka dan menerima mempelai pria? Bukankah mereka egois? Meskipun benar bahwa berbagi sumber daya yang dimiliki adalah cara Kristiani, rupanya ada beberapa hal yang tidak dapat dibagikan, terutama di dalam kehidupan rohani: seseorang harus mengembangkannya sendiri, dengan Anugerah Tuhan. Dalam peziarahan rohani, seseorang harus berjalan di jalan sendiri. Seseorang harus menghasilkan “minyak” ketekunan dan komitmen sendiri. Orang lain hanya bisa mendampingi, menasihati, dan mendorong. Seorang pembimbing rohani hanya dapat menunjukkan jalan, orang yang dipimpinnya harus berjalan. Seorang teman dapat mendoakan, menasihati, dan mendukung yang lain, tetapi seseorang harus berkomitmen secara pribadi. Tidak seorang pun dapat menjalani kehidupan orang lain.
Banyak hal tidak dapat kita pinjam. Kita tidak dapat meminjam hubungan dengan Tuhan. Kita tidak dapat meminjam kekudusan orang lain. Kita tidak dapat meminjam keutamaan hidup. Yang akan diperhitungkan adalah bagaimana kita secara pribadi menjalin hubungan dengan Tuhan dan sesama, bagaimana kita membangun kekudusan, bagaimana kita membangun keutamaan hidup
Semua itu membutuhkan proses. Tidak semudah memasak mie sedaap. Perlu ketekunan dan kesetiaan dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. “Karena itu berjaga-jagalah!” kata Yesus. Berjaga-jaga bukan berarti menanti dan tidak berbuat apa-apa, atau bersikap waspada supaya tidak “terciduk” saat berbuat dosa. Berjaga-jaga adalah berbuat baik setiap waktu, entah diawasi atau tidak, entah mendapat ganjaran atau tidak. Kita berbuat baik karena “dari sono-nya” kita adalah baik. Bukankah kita dicipta seturut gambar Allah yang Mahabaik?
Yesus menghendaki komitmen terus menerus dalam mengikuti Dia. Bagaimana komitmen kita? Apakah kita setia dan selalu siap sedia? Bagaimana kita menjaga agar pelita Iman tetapi menyala?
Tuhan Yesus, meskipun aku tidak tahu hari dan jamnya, kiranya Engkau mendapati aku setia ketika Engkau datang kembali.
