Sabda Hidup
Selasa, 28 Mei 2024, Selasa Pekan Biasa VIII
Bacaan: 1Ptr 1:10-16; Mzm 98:1.2-3ab.3c-4; Mrk 10:28-31.
Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”
MRK 10: 29 – 30
Persembahan diri adalah cara untuk mengungkapkan rasa syukur kita, yang menyenangkan hati Tuhan. Akan tetapi, di satu sisi, Petrus memperhatikan kepentingannya sendiri ketika ia mengingatkan Yesus bahwa ia dan murid-murid lainnya telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti-Nya.
Mayoritas orang yang telah mengabdikan diri mereka bagi Kerajaan Allah telah mengalami bahwa ada rasa sakit dan kehilangan ketika meninggalkan hal-hal yang penting dan berarti bagi mereka demi mengikuti kehendak Tuhan dengan lebih sempurna. Namun, mereka yang mengabdikan diri bagi Gereja telah menemukan keluarga baru, rumah, dan banyak hal lainnya. Kehidupan yang dibimbing oleh Injil bukanlah kehidupan yang dipenuhi dengan kesedihan atau keputusasaan.
“Hendaklah kamu menjadi kudus, sebab Aku kudus.” Ajakan ini sering kali ditemukan dalam Kitab Suci. Memahami konsep kekudusan terkadang cukup menantang. Kita biasanya mengasosiasikan kekudusan dengan figur-figur kudus yang digambarkan di gereja-gereja kita – patung-patung dengan tangan terkatup di depan dada dan mata menengadah ke langit.
Konsep kekudusan dalam bahasa Ibrani berakar pada gagasan “berbeda”, atau “dipisahkan” dari yang biasa [dikhususkan]. Tindakan-tindakan kita menentukan kita sebagai individu. Ketika kita menjalani kehidupan yang berintegritas, memperhatikan mereka yang berkekurangan, memastikan bahwa semua keluarga memiliki akses terhadap makanan, dan memprioritaskan kesejahteraan anak-anak yang sering kali diabaikan oleh masyarakat, kita mewujudkan “perbedaan” yang suci ini. Semua tindakan ini adalah pengejawantahan dari kekudusan.
Dalam Injil hari ini, Yesus menyatakan bahwa hidup untuk sesama adalah jalan menuju kekudusan. Menjadi kudus berarti hidup sedemikian rupa sehingga hidup itu tak akan bermakna jika Allah tidak ada.
Tuhan, semoga kami semakin murah hati dan mengalami sukacita sejati dalam melayani Dikau dan sesama. Amin.
