Remah Harian

MENJADI ANGGOTA KELUARGA YESUS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 24 September 2024, Selasa Pekan Biasa XXV
Bacaan: Ams 21:1-6.10-13Mzm 119:1.27.30.34.35.44Luk 8:19-21.

Injil hari ini menyampaikan sebuah kebenaran praktis: Hubungan yang paling mendalam dalam kehidupan bukanlah semata-mata hubungan darah, tetapi ketika orang-orang memiliki tujuan yang sama, prinsip-prinsip yang sama, kepentingan yang sama, dan tujuan yang sama – maka mereka akan menjadi “keluarga” yang sesungguhnya. Itulah sebabnya Yesus memandang sekeliling mereka yang dengan penuh perhatian mendengarkan-Nya dan berkata, “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”

Perikop ini membawa kita kembali ke kisah lain dari Injil Lukas Bab 2, di mana Yesus remaja menghilang selama tiga hari di Bait Allah di Yerusalem. Kisah ini menyoroti rasa hormat Yesus kepada Maria dan Yusuf, orang tua-Nya, sekaligus menekankan pentingnya memprioritaskan kepentingan Bapa-Nya. Kisah ini menjadi pengingat bahwa ada saat-saat dalam hidup kita ketika kita harus memprioritaskan kehendak Tuhan di atas keinginan manusiawi kita sendiri.

Yesus semakin populer di tengah-tengah pelayanan-Nya di Galilea ketika Ia tinggal di Kapernaum, jauh dari kampung halaman-Nya di Nazaret. Injil Markus dalam menceriterakan peristiwa ini menjelaskan bahwa keluarga Yesus di Nazaret mengira bahwa Dia tidak waras lagi, sehingga mereka pergi untuk “mengambil-Nya” – istilah yang dalam bahasa Yunani adalah kata yang sama yang digunakan ketika Herodes “menangkap” Yohanes Pembaptis, yang mengindikasikan niat mereka untuk mengambil-Nya secara paksa. Namun, justru saat itu Yesus mencanangkan pembentukan keluarga baru-Nya. Hanya mereka yang mendengar dan taat kepada Firman Allah, memiliki hubungan pribadi dengan Yesus dan merupakan bagian dari keluarga rohani Allah. Iman tanpa ketaatan bukan merupakan pilihan dalam keluarga rohani Allah.

Paus Fransiskus dalam homilinya, sering berbicara tentang perlunya mewujudkan Sukacita Injil, tidak hanya dengan kata-kata tetapi juga melalui tindakan. Keanggotaan kita dalam keluarga Yesus tidak didasarkan pada hubungan darah tetapi pada komitmen untuk mengikuti Firman Tuhan.

Bagaimanakah komitmen saya untuk melaksanakan firman Tuhan? Apakah saya mendengar dan melaksanakan Firman-Nya hanya ketika yang dikatakan-Nya sesuai dengan keinginan saya? Atau karena mudah untuk dilakukan? Bagaimana jika menuruti firman-Nya itu berarti melepaskan kenyamanan, gengsi, hal-hal material atau apa pun yang saya miliki?

Tuhan, bukalah hatiku selalu untuk menerima Firman-Mu. Bantulah aku untuk selalu siap sedia menaati dan melaksanakan Firman-Mu. Amin.

Author

Write A Comment