Sabda Hidup
Selasa, 4 Maret 2025, Selasa Pekan Biasa VIII
Bacaan: Sir. 35:1-12; Mzm. 50:5-6,7-8,14,23; Mrk. 10:28-31.
Berkatalah Petrus kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal,” [Mrk 10: 28 – 30].
Konteks perikope Injil hari ini telah kita dengar kemarin. Seorang muda yang kaya mendekati Yesus dan bertanya bagaimana caranya memperoleh hidup yang kekal. Yesus menantangnya untuk menjual segala miliknya dan membagikan hasilnya kepada orang miskin, lalu mengikuti Dia. Tetapi orang muda kaya itu menolak tantangan itu dan pergi. Melihat hal ini Petrus menyatakan bahwa ia dan para murid lainnya telah meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Yesus. Apa yang akan menjadi ganjarannya?
Injil mengingatkan kita bahwa mengikut Yesus membutuhkan pilihan setiap hari, kesediaan untuk melepaskan keterikatan duniawi dan mencari hidup yang kekal. Ketika Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Engkau,” Yesus menjawab dengan sebuah janji: mereka yang meninggalkan rumah, keluarga, dan harta benda demi Dia akan menerima lebih banyak lagi sebagai balasannya – baik dalam kehidupan sekarang ini maupun kehidupan kekal.
Apa yang dikatakan Injil ini berlaku bagi kita semua, bukan hanya bagi mereka yang menjalani hidup bakti sebagai imam atau religius. Setiap orang Kristen dipanggil untuk membuat pilihan-pilihan sesuai dengan kehendak Tuhan. Memilih untuk menghadiri Ekaristi daripada memprioritaskan hiburan, mendedikasikan waktu untuk berdoa daripada rekreasi, memilih untuk bekerja dengan jujur daripada mengikuti godaan korupsi, memilih untuk mengabdikan diri bagi kebaikan banyak orang ketimbang mementingkan kepentingan sendiri, atau menghidupi panggilan kita dengan Kristus sebagai pusatnya – ini adalah keputusan sehari-hari yang menentukan iman kita.
Mengikuti Yesus juga berarti mengizinkan Dia memasuki panggilan kita sepenuhnya. Jika Anda sudah menikah, undanglah Kristus ke dalam pernikahan Anda. Jika Anda seorang imam atau religius, biarkan Kristus menjadi pusat pelayanan Anda. Tanpa Dia, pelayanan kita dapat menjadi rutinitas, dan kita berisiko menjadi aktor dalam sebuah peran dan bukannya menjadi murid yang sejati.
Pada akhirnya, Yesus mengingatkan kita bahwa tujuan kita adalah Surga. Dia tidak meminta kita untuk meninggalkan segala sesuatu dengan cuma-cuma – melainkan, meninggalkan yang lebih kecil untuk mendapatkan yang lebih besar. Apa yang kita pegang teguh hari ini yang menghalangi kita untuk sepenuhnya memeluk-Nya? Apakah kita mencari kekekalan, atau apakah kita puas dengan apa yang bersifat sementara?
Kiranya Tuhan memberi kita keberanian untuk berjalan di jalan-Nya, percaya bahwa dengan meninggalkan segala sesuatu bagi-Nya, kita menerima segala sesuatu yang benar-benar penting: kasih-Nya, damai sejahtera-Nya, dan kehidupan kekal.
Tuhan, semoga kami mampu menjadikan Engkau yang utama dalam hidup kami. Amin.
