Remah Mingguan

MENGIKUTI CAHAYA KRISTUS

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 5 Januari 2025, Hari Raya Penampakan Tuhan
Bacaan: Yes. 60:1-6Mzm. 72:1-2,7-8,10-11,12-13Ef. 3:2-3a,5-6Mat. 2:1-12.

Perayaan Epifani, yang berarti “manifestasi”, terasa seperti Natal kedua. Perayaan ini sebenarnya adalah Natal Gereja-Gereja Timur. Perayaan ini menyatakan bahwa anak Yesus adalah milik dan diberikan kepada seluruh dunia sebagai Juruselamat. Ia diberikan kepada kita, tetapi bersama dengan para majus, dunia memberikan kepada-Nya berbagai macam karunia: budaya-budayanya yang beragam, berbagai macam sisi, berbagai macam identitas. Dan kita di sini, seperti orang-orang dari bangsa-bangsa lain, membawa kepada-Nya karunia diri kita sendiri: iman kita, kesetiaan kita, kasih kita, ketika kita bertemu dengan-Nya dalam doa dan di antara orang-orang, terutama yang paling miskin.

Perayaan ini membawa kisah para majus yang kaya akan makna teologis dan spiritual. Orang majus bukanlah raja-raja, melainkan “orang-orang pintar” dari Timur, yang melambangkan orang-orang di luar agama Yahudi yang dengan sungguh-sungguh mencari kebenaran. Perjalanan mereka melambangkan pencarian rohani orang-orang bukan Yahudi, yang berpuncak pada pengakuan Yesus sebagai Juru Selamat bagi semua orang.  

Bintang yang menuntun orang-orang Majus bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan penggenapan nubuat dalam Bilangan 24:17: “Sebuah bintang akan terbit dari Yakub.” Bintang ini adalah Yesus sendiri, terang yang menuntun semua bangsa kepada keselamatan.  

Persembahan orang majus – emas, kemenyan, dan mur – memiliki makna simbolis: emas mengakui Yesus sebagai raja, kemenyan menghormati keilahian-Nya, dan mur menandakan kemanusiaan-Nya dan penderitaan yang akan Ia tanggung. 

Kisah orang Majus juga mencerminkan Israel dan misi Gereja untuk membimbing orang lain kepada Kristus. Meskipun beberapa orang, seperti Herodes dan para imam, gagal mengenali Mesias, ternyata Kitab Suci mereka mengarahkan orang-orang majus kepada-Nya. Hal ini menegaskan panggilan Gereja untuk menjadi mercusuar, yang membawa semua orang kepada Yesus.

Perjalanan para majus melambangkan universalitas Gereja – sebuah komunitas yang diperkaya oleh beragam budaya dan tradisi. Kisah orang Majus memanggil kita untuk memulai perjalanan rohani kita, mencari Kristus dengan tulus. Pada Tahun Yubileum ini, kita melakukan perjalanan bersama sebagai Peziarah Harapan; seperti orang Majus, kita diundang untuk mengikuti cahaya, bahkan jika perjalanan itu panjang dan tidak pasti mereka menemukan Yesus dalam kesederhanaan Betlehem, mengingatkan kita agar kita mencari dan mengenali-Nya di tempat-tempat yang sederhana dan tak terduga. Masing-masing dari kita memiliki karunia untuk dipersembahkan – bakat, perjuangan, kasih kita. 

Semoga kita, seperti orang-orang Majus, mengikuti cahaya, membuka hati kita, dan membagikan cahaya Kristus kepada orang lain.

TUHAN, melalui bintang, kehadiran ilahi-Mu dinyatakan kepada dunia dalam diri orang-orang Majus yang menanggapinya dengan iman dan penyembahan. Nyatakanlah diri-Mu kepadaku dalam jiwaku di mana Engkau ingin dilahirkan, dan berikanlah kepadaku cinta dan semangat yang kubutuhkan untuk mengikuti teladan orang-orang Majus, mempersembahkan kepada-Mu apa saja yang aku miliki dari karunia-Mu.

Author

Write A Comment