Sabda Hidup
Jumat, 9 Agustus 2024, Jumat Pekan Biasa XVIII
Bacaan: Nah 1:15; 2:2; 3:1-3.6-7; MT Ul 32:35cd-36ab.39abcd.41; Mat 16:24-28.
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” [Mat 16: 24]
Pada Bacaan Injil kemarin kita dengar Petrus mengakui imannya kepada Yesus sebagai Mesias, tetapi ketika ia mendengar Gurunya berbicara tentang penderitaan dan kematian, ia ingin mencegah Yesus untuk mengalami hal itu. Namun Yesus justeru menghardik Petrus, dengan berkata: “Enyahlah Iblis!”
Setelah kejadian ini, Yesus menguraikan persyaratan untuk mengikuti Dia. Dia memberikan tiga tuntutan khusus bagi siapa saja yang memutuskan untuk mengikuti-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”
Menyangkal diri berarti berhenti memikirkan diri sendiri. Hal ini berarti melawan prinsip-prinsip umum yang biasanya mengarahkan interaksi antarpribadi kita. Murid Kristus dipanggil untuk melepaskan segala ambisi pribadi. Perbuatan baik atau tindakan amal kita pun bukan untuk mendapatkan sesuatu, pahala misalnya. Yesus memanggil kita untuk mengasihi dengan bebas, melepaskan segalanya dengan tulus, seperti Bapa.
Perintah kedua: “memikul salib,” tidak berarti menanggung tantangan dan kesulitan hidup, baik yang besar maupun yang kecil. Salib bukan menanggung penderitaan untuk menyenangkan hati Allah. Sebaliknya, salib melambangkan kasih dan sikap tidak mementingkan diri sendiri. Memikul salib berarti berjalan mengikuti jejak Yesus: mengasihi tanpa syarat, berbuat baik, dan membawa sukacita bagi orang lain.
Perintah ketiga, “ikutlah Aku”, berarti mengambil bagian dalam pilihan Yesus, mengambil bagian dalam proyek-Nya dan mempertaruhkan hidup kita dalam kasih. Kita memajang salib di dinding rumah kita atau kita kenakan pada kalung, gelang, cincin dsb. Semoga itu menjadi tanda keinginan kita untuk selalu mengikuti Kristus sambil dengan penuh kasih memper-HATI-kan sesama, terutama yang paling rentan dan terkecil di antara kita.
Jika kita ingin menjadi murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk serupa dengan Dia, mengorbankan hidup tanpa ragu-ragu, demi kasih kepada Allah dan sesama.
Bapa, kami bersedia untuk mengikuti Yesus, Putera-Mu. Namun bantulah kami ketika hati kami menjadi lemah, agar kami dapat terus berjalan bersama Dia yang adalah Tuhan kami untuk selama-lamanya. Amin.
