Remah Harian

MENGGARAMI HIDUP DENGAN KASIH DAN DAMAI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 27 Februari 2025, Kamis Pekan Biasa VII
Bacaan: Sir. 5:1-8Mzm. 1:1-2,3,4,6Mrk. 9:41-50.

Apa yang Yesus maksudkan ketika Yesus berkata “selalu mempunyai garam dalam dirimu” (Markus 9:50)? Garam memiliki fungsi yang sangat berguna di daerah beriklim panas sebelum ditemukannya listrik dan pendingin. Garam tidak hanya memberi rasa pada makanan, tetapi juga mengawetkan daging agar tidak busuk. Bahkan sampai sekarang pun kita mengawetkan daging dan ikan dengan menggaraminya.

Yesus menggunakan perumpamaan tentang garam untuk menggambarkan bagaimana murid-murid-Nya harus hidup di dunia. Sebagaimana garam memurnikan, mengawetkan, dan menghasilkan rasa yang kaya untuk makanan, demikian pula murid Kristus harus menjadi garam di dunia masyarakat manusia untuk memurnikan, mengawetkan, dan membawa “rasa” kerajaan Allah yang penuh dengan kebenaran, kedamaian, sukacita, dan belas kasihan.

Yesus memanggil kita untuk menjadi garam dunia, untuk membawa rasa, sukacita, dan makna bagi kehidupan orang lain melalui kasih dan pelayanan. Ketika kita bekerja untuk Tuhan, kita menerima lebih dari yang kita bayangkan. Setiap perbuatan baik, meski kecil – mengunjungi orang sakit, sapaan penyemangat, atau makanan dan minuman yang dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan – tidak hanya menghangatkan hati orang lain, tetapi juga hati kita. Tidak ada tindakan kasih yang sia-sia; Tuhan melihat dan menghargai setiap perbuatan baik. 

Pada saat yang sama, Yesus memperingatkan kita agar tidak menjadi sumber skandal (batu sandungan). Di dunia saat ini, kita sangat menyadari adanya tantangan dan luka di dalam Gereja. Namun, seperti halnya setiap keluarga memiliki pergumulan, demikian pula keluarga rohani kita. Alih-alih menjadi acuh tak acuh atau berkecil hati, kita harus menanggapinya dengan doa, kerendahan hati, dan komitmen untuk hidup berintegritas. Skandal muncul bukan hanya dari kegagalan publik tetapi juga dari kontradiksi dalam kehidupan kita sendiri – ketika hidup dan perilaku kita tidak mencerminkan iman yang kita nyatakan. Marilah kita memohon pengampunan Tuhan atas batu sandungan yang kita buat dan berdoa untuk kesembuhan dan kekudusan Gereja. 

Pada akhirnya, Injil mengundang kita untuk mencari kedamaian, kedamaian yang datang dari hidup dengan tujuan dan kesejatian. Kedamaian sejati ditemukan ketika hidup kita dipenuhi dengan “rasa” kasih Kristus. Marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: Apakah cara hidup saya membawa kedamaian dalam hati saya dan orang-orang di sekitar saya? Jika jawabannya ya, maka Anda sedang berjalan di jalan kekudusan.

Tuhan, tolonglah kami untuk menjadi garam bagi dunia, membawa kasih di mana ada luka, dan kedamaian di mana ada perpecahan. Semoga hidup kami mencerminkan kebaikan-Mu. Amin!

Author

Write A Comment