Sabda Hidup
Minggu, 9 Maret 2025, Minggu Prapaskah I Tahun C
Bacaan: Ul. 26:4-10; Mzm. 91:1-2,10-11,12-13,14-15; Rm. 10:8-13; Luk. 4:1-13.
Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Luk 4: 12).
Salah seorang teman sangat ingin memiliki sebuah kamera DSLR. Ketika suatu hari ia “scrolling” instagramnya, ada yang menawarkan kamera Canon DSLR, hanya Rp. 500.000,00! Begitu besar keinginannya dan kebutuhannya sehingga ia segera mentransfer uang Rp 500.000,00 ke rekening yang tertera di situ, tanpa pikir panjang. Ketika ia menghubungi nomor hp yang tertera di situ mulailah suatu dialog, yang mengatakan, agar kamera itu segera dikirim perlu mentransfer uang sekian-sekian untuk alasan ini dan itu. Sudah pasti ia kena jebakan batman! Maka ketika teman itu menyampaikan apa yang sudah dialaminya dengan gampang saya katakan: “Kowe kena tipu!”
Itulah salah satu godaan yang timbul dari kebutuhan. Teman saya itu sangat besar kebutuhannya [atau lebih tepat keinginan] akan sebuah kamera. Karena itu ia dengan mudah tergoda dan jatuh dalam bujuk rayu penipu.
Pencobaan adalah bagian dari perjalanan kekristenan kita. Bahkan Yesus, setelah dibaptis, dibawa ke padang gurun untuk dicobai. Tidak ada seorang pun yang bertumbuh dalam iman tanpa menghadapi pencobaan. Tetapi bagaimana kita merespons pencobaan-pencobaan ini menentukan apakah pencobaan-pencobaan itu menguatkan kita atau menjauhkan kita dari Tuhan.
Pencobaan atau godaan pertama datang dari apa yang kita anggap kurang atau kita butuhkan. Iblis mencobai Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, dengan alasan kelaparan dan kelangsungan hidup. Kita pun tergoda untuk mengisi kekosongan kita dengan hal-hal yang tidak benar-benar memuaskan – entah itu harta benda, hubungan yang tidak sehat, atau kesenangan sesaat. Alih-alih mencari solusi yang cepat, Yesus mengundang kita untuk percaya pada penyediaan Tuhan dan bersyukur atas apa yang kita miliki.
Pencobaan kedua adalah tentang mengendalikan Tuhan. Iblis mencobai Yesus untuk menjatuhkan diri-Nya dari Bait Allah, menguji perlindungan Allah. Kita terkadang melakukan hal yang sama – menginginkan Tuhan menyetujui rencana kita daripada mencari kehendak-Nya. Iman bukanlah tentang memanipulasi Tuhan, tetapi tentang berserah pada tujuan-Nya yang lebih besar untuk hidup kita.
Pencobaan ketiga adalah kepahitan dan keputusasaan. Ketika kita menderita, kita mungkin merasa bahwa hidup ini tidak adil, dan kita berisiko jatuh dalam keputusasaan, menyalahkan orang lain, atau bahkan berpaling dari Tuhan. Tetapi Kristus mengingatkan kita bahwa pencobaan bukanlah saat untuk mengambil keputusan yang gegabah – ini adalah waktu untuk berdoa, menunggu, dan percaya.
Dalam sebuah katekesenya Paus Fransikus pernah berkata: “Jangan terlibat dalam dialog dengan Setan!” Setan menerobos ke dalam kehidupan manusia untuk menggoda kita dengan usul-usulnya yang menarik. Iblis, mencampur suaranya sendiri dengan banyak suara lain yang mencoba menjinakkan hati nurani kita dan pesan datang kepada kita dari banyak tempat yang membujuk kita untuk menempuh jalan alternatif selain jalan Allah.”
Setiap kali kita menghadapi pencobaan, marilah kita ingat: jangan bertindak tergesa-gesa, jangan putus asa, tetapi berpalinglah kepada doa. Tuhan akan selalu menyediakan kasih karunia yang kita butuhkan untuk mengatasi pencobaan. Bersabarlah, percayalah kepada-Nya, dan biarkan kekuatan-Nya menjadi kemenangan Anda.
Tuhan, jangan biarkan kami jatuh dalam pencobaan, bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.
