Remah Mingguan

MENGAPA KAMU BEGITU TAKUT?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 23 Juni 2024, Minggu Biasa XII Tahun B
Bacaan: Ayb. 38:1.8-11Mzm. 107:23-24,25-26,28-29,30-312Kor. 5:14-17Mrk. 4:35-40.

MRK 4: 39 – 40

Hari Minggu ini permenungan kita berkisar tentang badai. Badai kehidupan. Dalam bacaan pertama, Tuhan berbicara kepada Ayub untuk pertama kalinya, mempertanyakan hak Ayub untuk menentang otoritas Tuhan dan membawa Ayub semakin menukik ke dalam misteri penciptaan. Kita mendengar bagaimana Tuhan berbicara kepada Ayub yang hidupnya dihancurkan oleh badai yang menyebabkan hilangnya seluruh harta bendanya, kematian orang-orang yang disayanginya, dan penyakit di sekujur tubuhnya yang membuatnya menderita. “Keluar dari badai,” Tuhan mengingatkan Ayub bahwa Dia memegang kendali.

Paulus, yang “mengarungi badai” penolakan dari sahabat-sahabatnya terdahulu, juga mengalami badai permusuhan yang hebat dari orang-orang Yahudi, saudara-saudari seiman di dalam Umat Pilihan Allah, yang menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Jadi, ia menjelaskan dalam bacaan kedua bahwa Yesus mati bagi kita untuk membuat kita menjadi “ciptaan baru”. Untuk menerima anugerah kasih ini, kita harus merespons, hidup bagi Yesus dalam segala situasi kehidupan kita karena Yesus telah mendahului kita melewati lautan kehidupan yang belum terpetakan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang meredakan taufan saat Ia bersama para murid menyeberangi danau. Perhatikan narasi Markus tentang Yesus yang meredakan taufan ini. Saat itu hari sudah petang ketika Yesus dan para murid naik perahu. Ada juga perahu-perahu kecil lainnya. Mereka berlayar ke seberang danau. Setelah berada di perahu, Yesus tertidur sementara para murid ditinggalkan untuk menghadapi badai di malam gelap itu.

Markus ingin mengatakan kepada para pembaca bahwa Yesus telah mencapai akhir hidup-Nya. Dan Dia tidak lagi bersama murid-murid-Nya secara fisik. Sedangkan perahu itu – yaitu Gereja, sedang diombang-ambingkan oleh badai dunia. Oleh karena itu, ketika mereka menghadapi penganiayaan dan pergumulan hidup, mereka merasa bahwa Yesus, Tuhan mereka, tertidur dan tidak peduli dengan pergumulan mereka. Itulah sebabnya mereka mengeluh: “Apakah Engkau tidak peduli kalau kami binasa?” Injil juga menyebutkan tentang perahu-perahu kecil lain yang bergerak bersama mereka. Mereka mewakili komunitas-komunitas umat beriman lainnya di berbagai daerah. Mereka sedang melakukan perjalanan menuju ke seberang danau. Ini adalah sebuah indikasi yang jelas tentang Gereja, yang sedang melakukan perjalanan menuju surga.

Yesus menenangkan badai dengan berkata: “Diam! Tenanglah!” Kita mendengar perintah semacam itu dari Yesus hanya ketika Dia mengusir setan. Di sini, Markus pasti mengacu pada kepercayaan umum pada masa itu bahwa danau/laut adalah tempat tinggal iblis. Iblis di dunia membuat kehidupan Gereja menjadi sulit dan menciptakan rasa takut akan kebinasaan. Tetapi Yesus mengusir setan-setan itu dengan memerintahkan mereka untuk “diam!”

Dalam sejarah Gereja, ada banyak momen-momen prahara yang menimbulkan trauma bagi kehidupan Gereja. Hal yang sama juga terjadi pada komunitas kita, keluarga kita, bahkan juga kita secara pribadi, di mana kita telah mengalami pasang surut kehidupan. Dalam semua momen itu, mudah untuk melihat gambaran perahu, terguncang oleh angin dan ombak.

Tetapi pada saat-saat ketidakpastian dan ketakutan seperti itu, penting untuk diingat bahwa kita tidak sendirian. Terkadang Yesus nampak tertidur dan tak mau tahu tentang masalah kita. Bahkan, Dia berbicara kepada kita dengan kata-kata yang sama seperti yang Dia katakan kepada para murid pada malam hari di danau itu: “Mengapa kamu begitu takut? Apakah kamu masih tidak percaya? Mengapa kamu tidak memiliki iman?”

Yesus tidak menghindarkan kita dari semua gelombang dan badai kehidupan. Masalah-masalah itu ada dan akan tetap ada. Masalah-masalah itu adalah bagian dari kondisi kehidupan manusia. Kita semua mengalami berbagai jenis badai yang dahsyat dalam hidup kita: badai fisik, badai emosi, dan badai rohani. Kita menghadapi badai kesedihan, keraguan, kecemasan, kekhawatiran, pencobaan, kebingungan, kehilangan semangat. Hanya Yesus yang dapat mengatasi badai-badai ini. Yesus dapat memberikan kita kedamaian yang sejati di tengah badai kesedihan.

Ketika kita benar-benar tertekan oleh kesedihan, Yesus meyakinkan kita akan kemuliaan kehidupan yang akan datang. Dia menghibur kita saat kehilangan orang-orang yang kita kasihi dengan jaminan kehidupan kekal bagi mereka di rumah surgawi Allah Bapa di mana kita juga akan hidup suatu hari nanti.

Ketika badai keraguan berusaha untuk mencabut dasar-dasar Iman kita, Yesus hadir untuk meredakan badai itu, menyatakan kepada kita keilahian-Nya dan kuasa-Nya di balik kata-kata Kitab Suci.

Jika kita mau memohon kepada-Nya, dan menanggapi dengan kepercayaan dan ketaatan yang penuh kasih, Yesus akan memberi kita kedamaian di tengah badai keraguan, ketegangan, dan ketidakpastian, kedamaian di tengah badai kegelisahan dan kekhawatiran tentang diri kita sendiri, kedamaian tentang masa depan yang tidak pasti, kedamaian tentang orang-orang yang kita kasihi, dan ketenangan di tengah badai nafsu ketika hati kita menjadi panas dan terbakar oleh amarah kita.

Meskipun terkadang kita tidak merasakan kehadiran-Nya, terkadang kita merasa seakan-akan Dia sedang tidur, namun iman kita mengingatkan bahwa kita tidak ditinggalkan sendirian. Dia selalu ada bersama kita.

Allah Mahakuasa, ketika kami berseru kepada-Mu dalam badai kehidupan, yakinkanlah kami bahwa Engkau peduli dan Engkau menyertai kami, bahkan ketika Engkau tampak tidak hadir. Biarlah iman kami tetap tenang dan damai serta semakin dalam meski mengalami pencobaan. Buatlah kami tetap percaya bahwa badai dan ombak taat kepada-Mu dan bahwa atas perintah-Mu kuasa-kuasa jahat tidak dapat mencelakakan kami. Tinggallah bersama kami melalui Putra-Mu, Yesus Kristus, Tuhan kami selama-lamanya.

Author

Write A Comment