Sabda Hidup
Jumat, 28 Juni 2024, Jumat Pekan Biasa XII
Bacaan: 2Raj 25:1-12; Mzm 137:1-2.3.4-5.6; Mat 8:1-4
Datanglah seorang yang sakit kusta kepada Yesus, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.
MAT 8: 2 – 3
Kusta dianggap sebagai hukuman seumur hidup, dan menyembuhkan orang kusta sama sulitnya dengan membangkitkan orang mati – suatu hal yang nyaris mustahil. Ketika Yesus turun dari atas bukit, orang banyak mengikuti-Nya. Namun, mereka yang memiliki penyakit tidak dapat mengikuti-Nya karena mereka ‘najis’, dan hukum melarang mereka untuk tampil di depan umum.
Dalam Injil hari ini, orang yang terkena kusta menghadapi pilihan yang menantang ketika memutuskan untuk mendekati Yesus, karena jika ketahuan dapat mengakibatkan hukuman rajam. Yesus juga bergulat dengan keputusan yang sulit. Bahkan menyentuh seorang penderita kusta saja akan membuatnya najis di mata musuh-musuh-Nya, yang berpotensi menyebabkan penghukuman. Namun demikian, Yesus tidak ragu-ragu untuk mendekat. Dia mengulurkan tangan-Nya dan menyembuhkan orang kusta itu.
Banyak orang yang terus menjaga jarak dengan Yesus karena kurangnya keberanian seperti yang ditunjukkan oleh orang kusta itu. Namun, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada semua orang, tanpa takut menjadi najis.
Sebuah refleksi yang indah dari perikop Injil ini disampaikan oleh Paus Fransiskus pada tahun 2015. Beliau berkata, “Kedekatan adalah kata yang sangat penting: Anda tidak dapat membangun sebuah komunitas tanpa kedekatan; Anda tidak dapat berdamai tanpa kedekatan; Anda tidak dapat berbuat baik tanpa mendekat. Yesus bisa saja berkata kepadanya, “Sembuhlah!”, tanpa menyentuhnya. Tetapi sebaliknya, Dia mendekat dan menyentuhnya. Terlebih lagi, pada saat Yesus menyentuh orang najis itu, dia sendiri menjadi najis. Dan inilah misteri Yesus: Dia memikul ke atas diri-Nya sendiri kenajisan kita, kecemaran kita.
Paulus menggambarkan hal ini dengan baik ketika ia menulis, “Walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.,” (Flp 2: 6 – 7). Marilah kita berdoa agar kita tidak takut untuk mendekat kepada mereka yang membutuhkan, baik yang terlihat maupun yang memiliki luka yang tersembunyi. Ini adalah kesempatan.
Tuhan Allah, Bapa kami, Putra-Mu, Yesus Kristus, telah menyatakan kepada kami cinta-Mu yang penuh belas kasihan dan menyembuhkan. Biarlah kehadiran-Nya di tengah-tengah kami memenuhi kami dengan kuasa-Nya untuk berbagi, mendekat mengulurkan tangan kepada saudara-saudari kami yang membutuhkan. Amin.
