Remah Harian

MENCABUT IRI HATI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 6 September 2021, Senin Pekan Biasa XXIII

Sesudah itu Ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada orang sakit itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu berbuat demikian dan sembuhlah tangannya. Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

(Luk 6: 10 – 11)

Cerita dalam Injil hari ini mengusik. Berulang kali kita jumpai para Ahli Taurat dan para Farisi bertindak dengan maksud-maksud jahat. Dalam peristiwa ini mereka mencari-cari alasan agar dapat mempersalahkan Dia. Dan apa yang mereka temukan untuk menyalahkan Dia? Mereka menyaksikan Yesus melakukan mukjizat di hari Sabat.

Sikap para Farisi dan Ahli Taurat ini menjengkelkan karena mereka adalah para pemimpin agama yang seharusnya melayani, tetapi mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. Mereka tenggelam dalam iri hati karena Yesus yang lebih populer dan lebih dihormati.

Satu hal dapat kita renungkan dari perikope ini adalah bahwa iri hati menuntun kita pada kebodohan dan irasionalitas. Iri membutakan dan menuntun kita pada cara berpikir yang bodoh. Kitab Keluaran (20: 8) dan Ulangan (5: 12) memerintahkan agar orang-orang Yahudi menguduskan hari Sabbat. Akan tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menafsirkannya atas cara yang salah dan membuatnya membebani rakyat melalui hukum buatan manusia. Yesus ingin menunjukkan maksud Allah yang sebenarnya dari perintah menguduskan hari Sabat, yakni hari istirahat untuk menyembah Tuhan, belajar dan mengajarkan hukum-hukum-Nya, dan berbuat baik untuk orang lain. Dengan menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya Yesus hendak membuktikan bahwa Sabbat dimaksudkan oleh Allah bagi umat-Nya untuk berbuat baik, untuk menyelamatkan kehidupan dan bukan membinasakan. Namun iri hati telah menutup akal sehat orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Mari kita bercermin dari perikope ini. Bagaimanakah relasi kita dengan sesama? Adakah iri yang bercokol di hati kita? Pernahkah kita bertindak secara “membabi-buta” dan irasional karena iri dan dengki?

Mari kita cabut iri dan dengki dari hati kita dan mari kita pupuk kebaikan.

Author

Write A Comment