Sabda Hidup
Minggu, 17 November 2024, Minggu Biasa XXXIII Tahun B
Bacaan: Dan. 12:1-3; Mzm. 16:5,8,9-10,11; Ibr. 10:11-14,18; Mrk. 13:24-32.
Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan pada waktu itupun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.” [Mrk 13: 26 – 27]
Seorang pastor sedang bermain tenis dengan seorang teman dan saat istirahat, pembicaraan mereka bergeser ke arah yang lebih serius dengan rekannya bertanya: “Pastor, seandainya kiamat tiba-tiba datang dan kita sedang bermain, apa yang akan Anda lakukan? Berlutut dan berdoa?”
Pastor itu berhenti sejenak dan berkata: “Saya akan terus bermain.”
Apa yang ingin dia katakan adalah bahwa kita tidak perlu khawatir tentang akhir dunia. Yang perlu kita khawatirkan adalah apakah kita berpegang teguh pada iman Kristen kita dan menghidupinya sepenuhnya meskipun ada banyak kesulitan.
Salah satu komentar pernah mengatakan bahwa orang beriman dan orang yang tidak beriman sama-sama mengkhawatirkan “akhir zaman”. Para ilmuwan membicarakannya sebagai akhir dari dunia fisik. Mereka menunjukkan bahwa benda-benda di luar angkasa, yang lebih besar dari gunung, dapat menyimpang dari orbitnya dan menghantam bumi dengan kekuatan yang lebih kuat daripada yang dihasilkan oleh senjata nuklir. Dampaknya akan sangat mengganggu ekosistem bumi dan menyebabkan kematian pelbagai macam spesies, termasuk manusia. Jika benturan hebat itu ternyata tidak terjadi, alam semesta memiliki cara lain untuk menghancurkan atau memusnahkan planet ini. Namun, para ilmuwan mengatakan bahwa semua itu tidak akan terjadi lebih awal dari satu miliar tahun dari sekarang. Maka anda mungkin akan berkata bahwa tidak ada alasan untuk mulai mengkhawatirkan hal itu.
Namun bagi kita orang Kristen, “akhir dunia” bukan berarti kehancuran planet ini, melainkan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Hari itu bukanlah hari yang harus ditakuti, melainkan hari yang penuh dengan harapan karena hari itu mengantar kita pada penyelesaian akhir sejarah dan pemerintahan penuh Allah.
Namun tak jarang kita dibingungkan oleh tanda-tanda alkitabiah “kedatangan Yesus Kristus” ini seperti perang, kelaparan, gempa bumi, penganiayaan dan sejenisnya yang sangat ditekankan oleh kelompok-kelompok fundamentalis. Sebenarnya, semua itu adalah nasihat untuk “Berjaga-jagalah! Berjaga-jagalah! Kamu tidak tahu kapan waktunya tiba” (Mrk. 13:34). Tanda-tanda ini bukanlah deskripsi faktual tentang akhir dunia, atau cara-cara untuk menghitung waktu kedatangan Tuhan.
Injil hari ini melukiskan sebuah gambaran tentang pemandangan yang akan terjadi ketika Yesus datang kembali. Jatuhnya benda-benda langit tampaknya mendukung bencana yang diramalkan oleh para ilmuwan. Tetapi Yesus hanya menggunakan bahasa apokaliptik yang umum digunakan pada masanya. Jika kita jeli membacanya, kita tahu bahwa itu diambil dari kitab Nabi Yesaya. Dalam pasal 13 dan 34, Yesaya mengatakan bahwa bintang-bintang di langit dan gugusan-gugudannya tidak akan lagi memancarkan cahayanya, matahari akan menjadi gelap pada waktu terbitnya, dan bulan tidak akan memancarkan cahayanya, dan semua bala tentara langit akan lenyap. Kekacauan di langit itu melambangkan jatuhnya tatanan lama yang akan digantikan oleh tatanan baru.
Kita semua menantikan kedatangan Yesus yang kedua kali. Ini akan menjadi hari kedatangan-Nya kembali. Kita mengucapkan Pengakuan Iman pada saat Misa dan menyatakan bahwa Yesus “akan datang kembali untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.” Para penulis Perjanjian Baru menggunakan kata Yunani Parousia yang berarti kedatangan dan kehadiran seorang raja, untuk menggambarkan kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Ketika hari itu tiba, Yesus akan diakui sebagai Tuhan bersama dengan kebangkitan orang mati dan semua manusia akan dihakimi di hadapan Kristus yang telah dimuliakan, Raja kita. Kapankah Dia akan datang? Tidak ada yang tahu. Kita hanya bisa menunggu. Namun, nantikanlah dengan sabar dan penuh makna. Sambil menanti, marilah kita saling berbagi karunia dan talenta yang telah Allah berikan kepada kita. Dengan kata lain, mari kita melakukan perbuatan baik dan melayani sesama manusia.
Ada sebuah cerita tentang seorang pemuda yang menderita di dalam api neraka. Siang dan malam, ia menangis dengan keras kepada Tuhan memohon untuk dibebaskan dari siksaan neraka. Tuhan mendengar tangisannya. Dia bertanya perbuatan baik apa yang telah dia lakukan selama di dunia. Seorang malaikat memeriksa riwayat hidupnya di buku kehidupan dan melaporkan bahwa orang itu pernah membagikan beberapa batang daun bawang kepada tetangganya yang miskin.
“Baiklah,” kata Tuhan, ”buatlah tali dari daun-daun bawang itu dan turunkan kepadanya.” Maka malaikat itu melakukan apa yang diperintahkan.
Ketika malaikat dengan penuh semangat menurunkan tali itu, pemuda itu berusaha keras untuk meraihnya. Kemudian malaikat itu mulai mengangkatnya. Ketika teman-temannya melihat apa yang sedang terjadi, mereka bergegas dan memegang kakinya seperti lintah-lintah yang bergelantungan menempel di kakinya. Beban itu menjadi begitu berat sehingga, di tengah jalan antara surga dan neraka, tali itu putus dan menjerumuskannya kembali ke neraka!
Pemuda itu tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan sesamanya karena ia hanya melakukan sedikit perbuatan baik. Bagaimana dengan kita, apakah perbuatan baik kita sudah cukup untuk menyelamatkan kita dari api neraka?
Allah sumber pengharapan, Engkau telah menyelamatkan kami di masa lalu, Engkau telah memberikan Putra-Mu kepada kami di masa kini dan masa depan kami berada di tangan-Mu, namun Engkau mempercayakannya juga kepada kami. Sebagai buah dari Ekaristi yang kami rayakan hari ini, bantulah kami untuk melihat masa depan sebagai tantangan untuk berkreasi dan membangun sebuah dunia baru dengan kuasa Yesus Kristus, yang akan menyempurnakan karya-Mu di dalam diri kami dan yang hidup bersama-Mu dan bersama kami selama-lamanya. Amin.
