Remah Harian

MEMUTUS RANTAI KEJAHATAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 16 Juni 2025, Senin Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Kor. 6: 1-10Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4Mat. 5:38-42.

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu…..”
(Mat 5: 38 – 39)

Dalam Injil hari ini Yesus memberikan ajaran yang revolusioner — sebuah ajaran yang membalikkan logika dunia: tidak melawan mereka yang berbuat jahat, memberikan pipi kiri kepada yang menampar pipi kanan kita, memberikan juga jubah kepada mereka yang mengingini baju, berjalan dua mil bersama dengan yang memaksa kita berjalan satu mil….. Dan yang mengikuti bukanlah pasifitas atau kelemahan, melainkan kekuatan belas kasihan, keberanian kasih.

Yesus tidak meminta kita untuk sekadar menerima ketidakadilan. Ia memanggil kita untuk memutus rantai kejahatan. Bukan dengan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan membalasnya dengan kebaikan. Ini tidak mudah. Diperlukan kekuatan, kerendahan hati, dan di atas segalanya, pertobatan. Pertobatan hati. Perubahan dalam cara kita melihat orang lain, bahkan musuh kita.

Ya, bahkan kita — kita semua — memiliki musuh. Dan terkadang, kita sendiri menjadi musuh orang lain. Kitab Imamat mengingatkan kita: “Janganlah kamu membenci saudaramu di dalam hatimu… kamu harus mengasihi sesamamu seperti dirimu sendiri.” (Imamat 19:17–18) Inilah panggilan Allah bagi kita, kepada kekudusan — kekudusan yang berakar bukan pada kemarahan atau dendam, tetapi pada belas kasihan.

Yesus tidak menghapuskan keadilan. Tidak! Dia meninggikannya. Dia mengajarkan kita untuk membedakan dengan jelas antara keadilan dan balas dendam. Balas dendam berasal dari kebencian dan hanya membawa penderitaan lebih lanjut. Tetapi keadilan Kristen terpenuhi dalam belas kasihan — dengan memberikan pipi yang lain, dalam berjalan ekstra, dalam memilih damai daripada pembalasan.

Ajaran ini bukanlah kelemahan. Ini adalah kekuatan. Ini adalah jalan menuju martabat sejati. Mari kita mohon Bunda Maria, Ratu Damai, untuk membantu kita menempuh jalan ini — untuk mempraktikkan kesabaran, pengampunan, dan dialog. Semoga Dia membantu kita menjadi pencipta persaudaraan, pemecah siklus kekerasan dengan kelimpahan kasih.

Tuhan, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.

Author

Write A Comment