Remah Harian

MEMILIH KEMATIAN KETIMBANG KEPALSUAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 29 Agustus 2024, Peringatan Wafatnya Yohanes Pembaptis
Bacaan: Yer. 1:17-19Mzm. 71:1-2,3-4a,5-6ab,15ab,17Mrk. 6:17-29.

Allah bersabda kepada Yeremia untuk tidak berkecil hati karena musuh-musuhnya, tetapi untuk bangkit dan berbicara, dan kuasa Allah akan melindunginya agar tidak dikalahkan oleh mereka (Yer 1: 17 – 19). Demikian pula, Yohanes muncul di padang gurun, menyatakan kebenaran dan menyerukan pertobatan. Setia pada misi kenabiannya, ia tidak takut kepada mereka yang berusaha membungkamnya, tetapi justru membawa suara kebenarannya bahkan sampai ke depan pintu istana raja.

Keyakinan Yohanes yang teguh adalah pelajaran berharga bagi kita.  Hidup di padang gurun membentuk kerohanian Yohanes, menanamkan dalam dirinya kualitas yang mendalam, integritas, dan keberanian. Sepanjang hidupnya, ia mencontohkan panggilan kenabiannya melalui kehidupan doanya yang mendalam, asketisme, dan keyakinan yang teguh akan tujuannya. Tidak heran jika dia lebih memilih kematian daripada kepalsuan. 

Ironi dalam pembunuhan Yohanes Pembaptis oleh Herodes terletak pada kenyataan bahwa Herodes memiliki kekuasaan tetapi hidup dalam ketakutan. Dia memiliki otoritas tetapi tidak memiliki pilihan. Yohanes, sebaliknya, dipenjara tetapi tetap merdeka. Dia dibelenggu tetapi masih memiliki pilihan. Di sinilah kita hari ini – beribu-ribu tahun kemudian dan ribuan kilometer jauhnya – menghormati kebesaran Yohanes Pembaptis!

Setiap orang di dunia ini memiliki misi yang harus dipenuhi. Beberapa dari kita berkompromi dengan nilai-nilai atau standar moral karena takut gagal, takut kehilangan muka, atau gentar menghadapi konsekuensi yang harus dipikul. Berpihak pada Tuhan dan memegang teguh iman serta memilih kekudusan yang jauh lebih besar daripada kenyamanan atau kesenangan adalah jalan yang dipilih Yohnaes,  dan pada saat yang sama, ia melemparkan tantangan kepada kita.

Kematian Yohanes Pembaptis adalah sebuah bukti dari kuasa kebenaran. Orang yang memegang kuasa kebenaran adalah orang yang benar-benar berkuasa.

Inilah kehidupan seorang martir. Ketika kita merenungkan kehidupan Yohanes hari ini, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri apa yang kita lakukan di tengah-tengah imoralitas dunia. Kita mungkin tidak terancam kematian sebagai martir; namun, dunia dapat membuat hidup mereka yang mengambil sikap menentang berbagai bentuk kejahatan tidak nyaman. Yohanes menolak untuk mentolerir segala bentuk imoralitas. Kita juga harus tegas dalam menentang imoralitas. Tidak pernah ada alasan untuk menoleransi amoralitas, bahkan jika dunia berpendapat bahwa toleransi adalah suatu keutamaan, kita harus berani berbeda. Argumen ini sah-sah saja selama kebenaran tidak dipertaruhkan. Tetapi ketika dunia merangkul suatu dosa dan berusaha untuk melegitimasinya, kita tidak boleh tinggal diam!

Apakah Anda takut untuk membela ajaran-ajaran Gereja karena Anda takut akan apa yang orang katakan atau pikirkan tentang Anda?

Ya Tuhan, berilah kami rahmat untuk selalu memegang teguh kebenaran. St. Yohanes Pembaptis, doakanlah kami. Amin.

Author

Write A Comment