Sabda Hidup
Sabtu, 1 Maret 2025, Sabtu Pekan Biasa VII
Bacaan: Sir. 17:1-15; Mzm. 103:13-14,15-16,17-18a; Mrk. 10:13-16.
Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah,” [Mrk 10: 13 – 14].
Biasanya melalui perikope Injil hari ini, tentang anak-anak yang datang kepada Yesus, kita diajak belajar dari sikap anak-anak. Namun saya ajak anda bermenung dari sudut pandang yang lain.
Dalam peristiwa itu Yesus menegur murid-murid-Nya karena menghalangi anak-anak untuk datang kepada-Nya, bukan karena mereka tidak baik, tetapi karena mereka berpikir bahwa mereka sedang melindungi Yesus dari “gangguan” dan kekacauan. Mereka telah melakukan hal yang sama di Yerikho, dengan membungkam orang buta yang berseru mohon belas kasih kepada Yesus. Mereka tanpa sadar telah membuat penghalang antara Yesus dan orang-orang yang mencari Dia. Kesalahan yang sama juga sering terjadi pada saat ini ketika kita, orang-orang Kristen, alih-alih memfasilitasi perjumpaan dengan Kristus, malah menciptakan hambatan.
Seberapa sering kita melihat orang-orang datang ke Gereja dengan penuh harapan, namun disambut dengan birokrasi dan sikap dingin? Pasangan yang sudah bertunangan yang bersemangat untuk pernikahan mereka diberi daftar harga alih-alih sebuah berkat. Seorang ibu muda yang mencari Pembaptisan untuk anaknya ditolak karena dia belum menikah. Jika kita cukup jeli, masih ada hal-hal lain yang sering kali tidak menjembatani perjumpaan dengan Kristus, tetapi justru menghalang-halangi. Situasi-situasi seperti ini mengungkapkan sebuah kecenderungan yang berbahaya: mengendalikan iman dan bukan menumbuhkannya. Dengan melakukan hal itu, kita menciptakan sebuah “sakramen kedelapan” – sakramen pengucilan – sesuatu yang tidak pernah dimaksudkan oleh Yesus.
Undangan Kristus adalah untuk semua orang. Dia tidak datang untuk yang sempurna, tetapi untuk yang hancur, yang terluka, yang mencari, yang bergumul. Gereja-Nya harus menjadi tempat yang ramah, rumah bagi semua orang yang merindukan kasih Allah. Jika kita sungguh-sungguh ingin menjadi Peziarah Harapan di Tahun Yubileum ini, kita harus membuka lebar-lebar pintu-pintu iman. Pun dalam kesaksian hidup sehari-hari, semoga kita tidak menjadi penghalang bagi orang lain untuk berjumpa dengan Yesus. Marilah kita memilih belas kasih daripada menghakimi, mendorong daripada menolak, dan mendampingi daripada birokrasi.
Tuhan, berilah kami hati yang menyambut, tangan yang melayani, dan kata-kata yang menyembuhkan. Semoga setiap orang yang datang kepada Gereja menemukan pintu-pintu yang terbuka menuju kasih-Mu yang tak terbatas. Amin!
