Sabda Hidup
Kamis, 20 Maret 2025, Kamis Pekan Prapaskah II
Bacaan: Yer 17:5-10; Mzm 1:1-2.3.4.6; Luk 16:19-31
“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.”
(Luk 16: 19 – 21).
Di sepanjang Injilnya, Lukas mengajak komunitasnya untuk mengidentifikasikan diri mereka dengan Yesus, yang penuh belas kasih dan kelembutan kepada orang miskin, orang yang terbuang, orang berdosa, dan orang yang menderita, kepada semua orang yang mengakui ketergantungan mereka kepada Allah. Namun, Ia bersikap keras terhadap mereka yang sombong dan merasa benar sendiri, terutama mereka yang menempatkan kekayaan materi di atas bakti kepada Allah.
Injil hari ini mengundang kita selama masa Prapaskah ini untuk menemukan kembali makna kasih melalui belas kasih dan bela rasa. Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus menghadapkan kita pada kenyataan tentang ketidakpedulian – sebuah kebutaan yang menutup hati kita terhadap penderitaan orang lain.
Orang kaya tak bernama itu, yang dikelilingi oleh kekayaan dan kemewahan, menderita penyakit yang lebih parah daripada Lazarus. Kebutaan rohaninya menghalangi dia untuk melihat penderitaan di depan pintu rumahnya sendiri. Paus Fransiskus memperingatkan bahwa keduniawian seperti ini dapat menjadi seperti lubang hitam – menelan segala sesuatu dan memadamkan cinta. Tragedi orang kaya itu bukanlah kekayaannya, melainkan kurangnya belas kasih – kegagalannya untuk mengenali kehadiran Tuhan dalam diri orang miskin.
Perumpamaan ini kiranya relevan dengan kondisi kesekitaran kita, di mana banyak orang yang buta terhadap penderitaan orang lain. Selagi banyak orang lain menderita korupsi merejalela – bukan lagi jutaan atau miliaran rupiah, tetapi beratus-ratus triliun! Mungkin kita sudah cape mendengar, membaca, menyaksikan berita tentang korupsi. Belum lagi mereka yang dipercayakan kuasa untuk melayani hanya ingat diri dan kroni-kroninya.
Masa Prapaskah adalah waktu untuk membangunkan hati kita dari tidur ketidakpedulian. Jeritan orang miskin bukan hanya sebuah seruan untuk meminta pertolongan, tetapi juga sebuah pengingat akan tanggung jawab kita. Mengabaikan penderitaan orang lain berarti mengabaikan Tuhan sendiri, karena belas kasih yang kita tunjukkan kepada orang lain adalah ukuran belas kasih Tuhan dalam hidup kita. Seperti yang diingatkan oleh Paus Fransiskus, “Jika saya tidak membuka pintu hati saya untuk orang miskin, pintu itu juga akan tetap tertutup bagi Tuhan.”
Kata-kata Santo Basilius Agung menantang kita lebih jauh lagi: “Roti yang kamu simpan adalah milik orang lapar.” Apa yang tidak kita gunakan dengan segera bukanlah milik kita, melainkan untuk mereka yang membutuhkan.
Pada masa Prapaskah ini, marilah kita membuka hati kita, membiarkan belas kasih Tuhan mengalir melalui diri kita. Semoga kita dapat mencari Lazarus-Lazarus di sekitar kita, tidak hanya memberikan bantuan materi tetapi juga kehangatan belas kasih, martabat, dan cinta.
“Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7).
Tuhan, semoga kami murah hati dan berbelas kasih seperti Engkau. Amin.
