Sabda Hidup
Sabtu, 5 April 2025, Sabtu Pekan Prapaskah IV
Bacaan: Yer. 11:18-20; Mzm. 7:2-3,9bc-10,11-12; Yoh. 7:40-53.
“Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”
[YOH 7: 50 – 51]
Kita selalu melihat orang-orang Farisi sebagai musuh. Alkitab dipenuhi dengan kisah-kisah tentang mereka yang selalu menentang Yesus. Namun hari ini kita dapati bahwa tidak semua dari mereka memilih untuk mengambil sikap bermusuhan terhadap Yesus. Kita jumpai seorang pribadi yang berani menentang arus. Dia adalah Nikodemus.
Nikodemus dalam Injil hari ini memilih untuk berbicara dengan menggunakan hukum Taurat Farisi untuk mendukung Yesus. “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” (Yohanes 7:51). Ini jauh berbeda dengan Nikodemus yang kita kenal di bagian awal Injil Yohanes (3:1-21). Ia jelas tertarik kepada Yesus tetapi tidak mau mengambil risiko menodai kedudukannya. Bahkan jika ia ingin bertemu dengan Yesus, ia memilih untuk melakukannya sembunyi-sembunyi pada malam hari. Ia menghadapi risiko disingkirkan karena hubungannya dengan Yesus. Namun, orang Farisi yang dulunya pengecut ini akhirnya angkat bicara. Dan apa yang dia takutkan selama ini terbukti benar – teman-temannya mencoba untuk mengalahkannya ketika dia mencoba untuk menggunakan hukum mereka sendiri terhadap mereka. Pasti sangat sulit bagi Nikodemus untuk melawan arus. Omelan orang-orang Farisi terhadap para penjaga membuktikan bahwa Nikodemus sendirian dalam pencariannya. Itu adalah pencarian yang sepi, tetapi dia tetap bertahan. Kita akan berjumpa lagi dengan Nikademus pada saat penyaliban dan pemakaman Yesus. Ketika para murid Yesus memilih untuk kabur, Nikademus dan Yusuf dari Arimatea yang memberikan penguburan yang bermartabat kepada Yesus (Yoh. 19:38-40), suatu tindakan yang akan dikenang sampai akhir zaman.
Dalam kehidupan kita, ada banyak masalah yang kita hadapi sebagai umat Katolik setiap hari. Ada banyak permasalahan yang kita hadapi, di mana kebenaran terancam, keadilan diabaikan dan kehidupan tidak dihargai. Sikap Nikodemus dapat menjadi contoh bagi kita. Seperti dia, apakah kita memiliki keberanian untuk secara terbuka menantang pendirian teman, kerabat kerja, orang-orang dekat di sekitar kita yang keliru dalam isu-isu moral dan mengikuti norma-norma yang telah ditetapkan oleh Tuhan kita? Dapatkah kita berpegang teguh pada identitas Yesus sebagai Anak Allah di tengah-tengah penyangkalan publik saat ini?
Kiranya kita terbuka terhadap dorongan Roh Kudus yang menggerakkan kita untuk berani berbicara bagi Yesus, dan mengesampingkan sikap acuh tak acuh yang menawarkan perlindungan dan keamanan palsu.
Apa yang menghalangi Anda untuk membela kebenaran moral dalam masyarakat kita saat ini?
Roh Kudus, gerakkanlah aku untuk berdiri bersama Yesus dan nilai-nilai Injil-Nya kapan pun saya dipanggil. Amin.
